Konflik dalam Kepemimpinan Pendidikan

Istilah konflik akan membawa suatu kesan dalam pikiran seseorang bahwa dalam hal tersebut terdapat suatu pemikiran, pertentangan antara beberapa orang atau kelompok orang-orang, tidak adanya kerja sama, perjuangan satu pihak untuk melawan pihak lainnya, atau suatu proses yang berlawanan.

Konflik dalam kesan semacam ini, walaupun kenyataannya ada dan  bisa terjadi dalam administrasi Negara kita, tampaknya membuat banyak orang menghindarinya. Sebagian karena hal tersebut tidak sesuai dengan ciri-ciri adanya keselarasan, keseimbangan, dan keserasian. Sebagian lainnya, banyak oramg tidak mau berkonflik dangan orang lain, karena konflik menimbulkan banyak musuh. Tapi bagaimana kalau suatu ketika konflik itu timbul dalam kantor, organisasi, atau  departemen tempat kita bekerja? Di sinilah relevansinya fungsi seorang pemimpin untuk bisa mengatasi konflik yang tidak disenangi tapi bisa timbul sewaktu-waktu.

Konflik Antarpribadi

Selain konflik yang terjadi dalam diri seseorang, konflik dapat pula terjadi antarpribadi. Konflik antarpribadi terjadi jika dua orang atau lebih berinteraksi satu sama lain dalam melaksanakan pekerjaan. Joe Kelly mencatat, bahwa situasi konflik yang tidak bisa dihindari adalah keadaan-keadaan seperti ini: paling sedikit dua orang yang mempunyai pandangan-pandangan yang tidak bisa disatukan, orang-orang yang tidak bisa bertoleransi dari sesuatu yang bermakna ganda, dan seorang yang dengan cepatnya suka menarik suatu kesimpulan.

 

Penyebab Konflik Antarpribadi

1. Perbedaan individu yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.

Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.

2. Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.

Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.

3. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.

Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda.

4. Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.

Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.

 

Strategi Pemecahan Konflik Antarpribadi

Lose-lose (kalah-kalah) Biasanya terjadi jika orang yang bertemu sama-sama punya paradigma Menang-Kalah. Karena keduanya tidak bisa bernegosiasi secara sehat, maka mereka berprinsip jika tidak ada yang menang , lebih baik semuanya kalah. Mereka berpusat pada musuh, yang ada hanya perasaan dendam tanpa menyadari jika orang lain kalah dan dirinya kalah sama saja dengan bunuh diri.

Lose-Win (kalah-menang) Paradigma ini mengatakan jika “saya menang, anda kalah“. Dalam gaya ini seseorang cenderung menggunakan kekuasaan, jabatan, mandat, barang milik, atau kepribadian untuk mendapatkan apa yang diinginkan dengan mengorbankan orang lain. Dengan paradigma ini seseorang akan merasa berarti jika ia bisa menang dan orang lain kalah. Ia akan merasa terancam dan iri jika orang lain menang sebab ia berpikir jika orang lain menang pasti dirinya kalah. Jika menang pun sebenarnya ia diliputi rasa bersalah karena ia menganggap kemenangannya pasti mengorbankan orang lain. Pihak yang kalah pun akan menyimpan rasa kecewa, sakit hati, dan merasa diabaikan.

Sikap Menang-Kalah dapat muncul dalam bentuk :

Menggunakan orang lain , baik secara emosional atau pun fisik, untuk kepentingan diri. Mencoba untuk berada di atas orang lain. Menjelek-jelekkan orang lain supaya diri sendiri nampak baik. Selalu mencoba memaksakan kehendak tanpa memperhatikan perasaan orang lain. Iri dan dengki ketika orang lain berhasil.

Win-win (menang-menang) Menang-Menang adalah kerangka pikiran dan hati yang terus menerus mencari keuntungan bersama dalam semua interaksi. Menang-Menang berarti mengusahakan semua pihak merasa senang dan puas dengan pemecahan masalah atau keputusan yang diambil. Paradigma ini memandang kehidupan sebagai arena kerja sama bukan persaingan. Paradigma ini akan menimbulkan kepuasan pada kedua belah pihak dan akan meningkatkan kerja sama kreatif.

Dari ketiga strategi di atas, strategi yang akan kami gunakan adalah Lose-lose (kalah-kalah) seperti yang telah dijelaskan.

Gaya Kepemimpinan

Gaya kepemimpinan yang akan kami tampilkan adalah gaya konsultasi, yaitu menunjukkan perilaku tinggi tugas dan tinggi hubungan.

 

 

Skenario Pementasan

Konflik Antarpribadi (Strategi Lose-lose (kalah-kalah) dengan Gaya Konsultasi (Tinggi tugas- Tinggi hubungan)

Siang itu, dua orang kakak-beradik tiba di rumahnya, setelah menuntut ilmu seharian dari sekolah. Tiba-tiba mereka menemukan selembar uang Rp 50.000 terletak di atas meja di ruang tamu.

Kakak-Adik     : (Bersama-sama) Haaah ada duit lima puluh ribu.

Kakak              : Yeyeye nemu duit..

Adik                : Kakak, aku juga nemu duit itu lebih dulu.

Kakak              : Eit,, gak bisa dong. Sekarang khan duitnya udah ada di tangan kakak.

Adik                : Gak bisa gitu dong Kak. Kakak khan lebih tua dari aku, jadi mestinya

Kakak yang ngalah. Sini…duitnya… (sambil menyodorkan tangannya).

Kakak              : Umm sori ya Dik. Kakak gak bisa bagi. Jadi….

Adik                : Iiii kakak curang… Sini duitnya… Sini…!!

Kakak              : Ihhh gak boleh. Ini khan punya kakak.

Terjadilah aksi saling berebut di antara dua orang kakak-beradik itu.

Adik                : Kalo kakak gak mau ngasih ke aku, aku akan teriak manggil mami.

Kakak              : Silahkan…teriak aja… Weeee..!! (sambil menjulurkan lidahnya).

Adik                : Mamiiii…. Mamiiii…!!!!!!!

Ibu mereka yang sedang sibuk di dapur pun datang menghampiri mereka.

Mami               : Heyy, heyy..! Ada apa ini?? Kenapa adik sampai teriak-teriak seperti

itu.

Adik                : Gini Mi. Tadi khan kita nemu duit lima puluh ribu di atas meja, trus adik gak dibagi duit ama kakak. Padahal adik juga yang nemu duit itu

duluan.

Kakak              : Yeee siapa bilang. Aku khan yang nemuin duit itu sendirian.

Adik                : Bo’ong tuh Mi. Kakak bo’ong.

Mami               : Sudah cukup. Sekarang mana duitnya. Kasih ke Mami.

Kakak              : Nih..! (Sambil menyodorkan uang Rp 50.000 pada Mami).

Mami               : Kakak,,, Adik…! Sekarang dengarkan Mami baik-baik yaa. Tadi kalian menemukan duit ini di atas meja khan?

(Kakak dan adik mengangguk)

Ingat..! Setiap kali kita menemukan sebuah benda berharga dimanapun kita berada, kita tidak boleh mengambilnya. Karena itu bukan milik kita. Seperti uang ini. Uang ini adalah milik orang lain. Dan orang itu pasti ada di rumah ini. Jadi, kakak sama adik gak boleh sembarangan mengaku bahwa ini sudah jadi milik kalian. Mengerti??

Kakak-Adik     : (Bersama-sama) Iya Mi.

Mami               : Nah, sekarang tugas kalian adalah mengembalikan uang ini ke Bi Inah. Karena tadi Mami dengar dia sedang mencari-cari uangnya yang hilang. Mungki saja uang ini adalah milik Bi Inah.

Adik                : Yaah Mami. Tapi khan…

Mami               : Gak ada tapi-tapian. Kembalikan segera. Kalo tidak, kita gak akan jadi jalan-jalan hari ini.

Kakak-Adik     : Baiklah Mi.

 

~ oleh Lhani pada 1 Februari 2011.

3 Tanggapan to “Konflik dalam Kepemimpinan Pendidikan”

  1. kk bisa ajari saya jadi penulis yg bagus

  2. referensinya mana kak?

  3. Terima kasih infonya Bu.. Yang butuh Makalah Pendidikan silakan kunjungi Blog Kabar Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: