Latar Belakang Lahirnya Aliran Konstruktivisme

Aliran Konstruktivisme lahir dari sebuah kritik secara terbuka terhadap pendekatan Neorealisme dan Neoliberalisme. Manusia merupakan mahluk individual yang dikonstruksikan melalui sebuah realitas sosial. Konstruksi atas manusia ini akan melahirkan paham yang intersubyektivitas. Hanya dalam proses interaksi sosial, manusia akan saling memahaminya. Dalam melihat hubungan antar sesama individu, nilai-nilai relasi tersebut bukanlah diberikan atau disodorkan oleh salah satu pihak, melainkan kesepakatan untuk berinteraksi itu perlu diciptakan di atas kesepakatan antar kedua belah pihak. Dalam proses ini, faktor identitas individu sangat penting dalam menjelaskan kepentingannya. Interaksi sosial antar individu akan menciptakan lingkungan atau realitas sosial yang diinginkan. Dengan kata lain, sesungguhnya realitas sosial merupakan hasil konstruksi atau bentukan dari proses interaksi tersebut. Hakekat manusia menurut konsepsi konstruktivisme lebih bersifat bebas dan terhormat karena dapat menolak atau menerima sistem internasional, serta membentuk kembali model relasi yang saling menguntungkan.

Dalam teorinya, konstruktivistik merupakan pengembangan lebih lanjut dari teori gestalt. Perbedaannya: pada gestalt – permasalahan yang dimunculkan berasal dari pancingan eksternal sedangkan pada konstruktivistik – permasalahan muncul dibangun dari pengetahuan yang direkonstruksi sendiiri. Dalam pembelajaran di kelas, teori ini sangat percaya bahwa siswa mampu mencari sendiri masalah, menyusun sendiri pengetahuannya melalui kemampuan berpikir dan tantangan yang dihadapinya, menyelesaikan dan membuat konsep mengenai keseluruhan pengalaman realistik dan teori dalam satu bangunan utuh.

Oleh karena itu aliran konstruktivisme memberikan implikasi yang sangat besar dalam dunia pendidikan, khususnya di sekolah dasar.

 

About these ads

~ oleh Lhani pada 1 Februari 2011.

2 Tanggapan to “Latar Belakang Lahirnya Aliran Konstruktivisme”

  1. bagus tuh bikin artikel-artikel singkat. lebih bagus lagi yang kayak esai, jadi bisa bikin kita rada mikir gitu

  2. hhhhhhhhaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: