RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) MODEL SUBJECT SPECIFIC PEDAGOGY (SSP)

•22 Agustus 2011 • 18 Komentar

Satuan Pendidikan    :  SD Negeri Percobaan 2

Mata Pelajaran          :  IPA (Ilmu Pengetahuan Alam)

Kelas/Semester          :  IV (Empat) / I (Satu)

Alokasi Waktu           :  2 x 35 Menit

 

A.    Standar Kompetensi

6.   Memahami beragam sifat dan perubahan wujud benda serta berbagai cara

penggunaan benda berdasarkan sifatnya.

B.     Kompetensi Dasar

6.2. Mendeskripsikan terjadinya perubahan wujud cair → padat → cair; cair →

gas → cair; padat → gas.

C.    Indikator Pembelajaran

1.      Kognitif

a.       Produk

1)      Mengidentifikasi perubahan wujud benda yang dapat kembali ke wujud

semula.

2)      Menjelaskan faktor yang mempengaruhi perubahan wujud benda.

3)      Memberikan contoh perubahan wujud benda.

b.      Proses

Mengamati macam-macam proses perubahan wujud benda.

2.      Afektif

a. Aktif berpartisipasi dalam kerja kelompok.

b. Disiplin dalam mengerjakan tugas kelompok.

c. Memperhatikan instruksi kerja yang disampaikan.

3.      Psikomotor

Melakukan percobaan tentang perubahan wujud benda.

D.    Tujuan Pembelajaran

1.      Kognitif

a.       Produk

1)      Setelah melakukan percobaan, siswa dapat mengidentifikasi perubahan wujud benda yang dapat kembali ke wujud semula dengan benar.

2)      Setelah melakukan percobaan, siswa dapat menjelaskan faktor yang mempengaruhi perubahan wujud benda dengan benar.

3)      Setelah melakukan percobaan, siswa dapat memberikan contoh perubahan wujud benda dengan benar.

b.      Proses

Melalui percobaan kelompok, siswa dapat mengamati macam-macam proses perubahan wujud benda yang terjadi secara langsung.

2.      Afektif

a.       Pada saat melakukan percobaan, siswa dapat berpartisipasi aktif dalam kerja kelompok.

b.      Pada saat melakukan percobaan, siswa dapat berdisiplin dalam mengerjakan tugas kelompok.

c.       Sebelum melakukan percobaan, siswa dapat memperhatikan instruksi kerja yang disampaikan dengan baik.

3.      Psikomotor

Setelah memperhatikan instruksi yang disampaikan, siswa dapat melakukan percobaan tentang proses perubahan wujud benda dengan benar.

E.     Materi Pembelajaran

Perubahan Wujud Benda

F.     Model dan Metode Pembelajaran

1.      Model Pembelajaran

Penemuan Terbimbing

2.      Metode Pembelajaran

Percobaan, diskusi, penugasan, kerja kelompok, dan tutor sebaya.

G.    Langkah-langkah Kegiatan Belajar Mengajar

  1. Kegiatan Awal (10 Menit)
No.

Jenis Kegiatan

Alokasi Waktu

 1.

2.

3.

Apersepsi (Siswa memperhatikan alat peraga yang telah disediakan guru yaitu air panas dalam gelas yang ditutup).Siswa mendengarkan penjelasan dari guru tentang tujuan pembelajaran yang akan dicapai.Siswa mendengarkan penjelasan dari guru tentang kegiatan yang akan dilakukan pada hari ini.

6 Menit

2 Menit

2 Menit

  1. Kegiatan Inti (40 Menit)

No.

Jenis Kegiatan

Alokasi Waktu

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Eksplorasi:Siswa bersama guru menyiapkan LKS, alat dan bahan yang dibutuhkan untuk kegiatan percobaan.Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil beranggotakan 4-5 orang.Siswa diberikan tugas oleh guru untuk melakukan percobaan tentang macam-macam perubahan wujud benda di dalam kelompoknya masing-masing dengan alat dan bahan yang telah disediakan sesuai instruksi yang disampaikan.

Siswa secara individu dan berkelompok mengisi LKS berdasarkan hasil percobaan dan pengamatan yang telah dilakukan di dalam kelompok, lalu dikumpulkan dan dipilih salah satu kelompok untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya.

Elaborasi:

Salah satu kelompok yang terpilih, maju dan mempresentasikan hasil percobaan dengan pengamatan kelompoknya di depan kelas, dan kelompok lainnya dipersilahkan untuk menyampaikan pendapatnya.

Konfirmasi:

Siswa memperhatikan gambar contoh proses perubahan wujud benda yang tempelkan guru di depan kelas.

Siswa diberikan kesempatan untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami.

Siswa mendengarkan penjelasan guru mengenai penekanan dan penguatan pada hal-hal yang belum dipahami.

25 Menit

10 Menit

5 Menit

  1. Kegiatan Penutup (20 Menit)

No.

Jenis Kegiatan

Alokasi Waktu

1.

2.

3.

Siswa memberikan kesimpulan tentang materi pelajaran yang telah diperolehnya pada hari ini.Siswa mengerjakan soal evaluasi pembelajaran.Siswa bersama guru merefleksi pembelajaran untuk hari ini.

3 Menit

15 Menit

2 Menit

H.    Sumber dan Alat Pembelajaran

  1. Sumber Pembelajaran

a.       Buku Sains Ilmu Pengetahuan Alam SD/MI 4, Sularmi M.D Wijayanti, BSE, Pusbuk Depdiknas.

b.      Buku Ilmu Pengetahuan Alam SD/MI Kelas IV, Hery Sulistyanto, BSE, Pusbuk Depdiknas

c.       Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Dasar, Model Silabus Kelas IV SD, BSNP.

  1. Alat Pembelajaran

a.       Gambar macam-macam perubahan wujud benda

b.      Lilin

c.       Korek api

d.      Kamper/kapur barus

e.       Penjepit

f.       Es batu

g.      Gelas ukur

h.      Kaki tiga

i.        Kompor spritus

j.        Gelas

k.      Tutup gelas

l.        LKS (Lembar Kegiatan Siswa)

I.       Penilaian

  1. Penilaian Kognitif

a. Produk

1) Teknik Penilaian : tes isian

2) Rubrik Penilaian : (terlampir)

b. Proses

Teknik Penilaian : LKS (Lembar Kegiatan Siswa)

2. Penilaian Afektif

a. Teknik Penilaian: non tes

b. Rubrik Penilaian: (terlampir)

3. Penilaian Psikomotor

a. Teknik Penilaian: non tes (pengamatan)

b. Rubrik Penilaian: (terlampir)

4. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

Kriteria Ketuntasan Minimal sebesar 75.

LAMPIRAN

LKS (Lembar Kerja Siswa)

Tujuan:

Mengamati perubahan wujud benda

Alat dan Bahan:

  1. lilin
  2. kamper (kapur barus)
  3. korek api
  4. penjepit
  5. es batu
  6. gelas ukur
  7. kompor spritus
  8. kaki tiga

Langkah Kerja:

1. Nyalakan sebatang lilin, kemudian amati perubahan yang terjadi pada lilin yang sudah terbakar! Buatlah kesimpulan dari hasil pengamatanmu dengan mengisi tabel di bawah ini!

Peristiwa

Perubahan Wujud

 
 

2.  Jepit sebuah kamper, kemudian panaskan di atas lilin yang menyala! Amati perubahan yang terjadi pada kamper tersebut! Buatlah kesimpulan dari hasil pengamatanmu dengan mengisi tabel di bawah ini!

Peristiwa

Perubahan Wujud

 

3.  Letakkan es batu ke dalam gelas ukur! Amati perubahan yang terjadi pada es batu setelah dipanaskan di atas kompor spritus! Buatlah kesimpulan dari hasil pengamatanmu tersebut dengan mengisi tabel di bawah ini!

Peristiwa

Perubahan Wujud

 
 
 

4. Tulislah kesimpulan yang kamu peroleh dari percobaan yang telah kamu lakukan di atas!

Kunci Jawaban LKS

1. Kesimpulan dari hasil pengamatan lilin yang dibakar adalah sebagai berikut.

Peristiwa

Perubahan Wujud

Lilin meleleh Padat ke cair = mencair
Lilin kembali menjadi padat Cair ke padat = membeku

2. Kesimpulan dari hasil pengamatan kamper yang dibakar adalah sebagai berikut.

Peristiwa

Perubahan Wujud

Kamper dipanaskan Padat ke gas = menyublim

3. Kesimpulan dari hasil pengamatan es batu yang dipanaskan adalah sebagai berikut.

Peristiwa

Perubahan Wujud

Es batu mencair Padat ke cair = mencair
Air dipanaskan Cair ke gas = menguap
Titik-titik air pada penutup gelas Gas ke cair = mengembun

4. Kesimpulan yang diperoleh dari percobaan yang telah dilakukan adalah ada 5 macam proses perubahan wujud benda yaitu:

  • Padat ke cair disebut mencair/meleleh
  • Cair ke padat disebut membeku
  • Cair ke gas disebut menguap
  • Gas ke cair disebut mengembun
  • Padat ke gas disebut menyublim

Kisi-kisi dan Rubrik Penilaian Kognitif

No.

Indikator

No Butir Soal

Skor

1.

Mengidentifikasi perubahan wujud benda yang dapat kembali ke wujud semula.

1

2

3

4

5

10

10

10

10

10

2.

Menjelaskan faktor yang mempengaruhi perubahan wujud benda.

6

10

3.

Memberikan contoh perubahan wujud benda.

7

8

9

10

10

10

10

10

Lembar Penilaian Kognitif  dan Kunci Jawaban

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar!

1)      Proses perubahan wujud benda dari cair ke gas disebut ….

2)      Mengembun merupakan proses perubahan wujud benda dari …. ke ….

3)      Proses perubahan wujud benda dari padat ke cair disebut ….

4)      Membeku merupakan proses perubahan wujud benda dari …. ke ….

5)      Proses perubahan wujud benda dari padat ke gas disebut ….

6)      Faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan wujud benda adalah karena adanya ….

7)      Peristiwa lilin yang dibakar merupakan contoh perubahan wujud benda dari …. ke ….

8)      Peristiwa kamper dilemari pakaian yang habis  merupakan contoh perubahan wujud benda dari padat ke gas yang disebut ….

9)      Salah satu contoh proses perubahan wujud benda dari padat ke cair adalah peristiwa ….

10)  Air yang dipanaskan akan menguap. Peristiwa ini terjadi karena adanya proses perubahan wujud benda dari …. ke ….

Kunci Jawaban

1)      Menguap                           6)   Perubahan suhu

2)      Gas ke cair                        7)   Padat ke cair

3)      Mencair/meleleh           8)   Menyublim

4)      Cair ke padat                     9)   Lilin yang dibakar/es yang dipanaskan

5)      Menyublim                        10) Cair ke gas

 

Kisi-kisi Lembar Penilaian Afektif

No.

Indikator

No Butir Soal

1.

Aktif berpartisipasi dalam kerja kelompok.

1

2.

Disiplin dalam mengerjakan tugas kelompok.

2

3.

Memperhatikan instruksi yang disampaikan.

3

 Rubrik Penilaian Afektif

No.

Aspek Penilaian

Kriteria

Skor

1.

Keaktifan

Berpartisipasi dalam kerja kelompok dengan persentase keaktifan 75% – 100% selama proses pembelajaran.Berpartisipasi dalam kerja kelompok dengan persentase keaktifan 50% – 74% selama proses pembelajaran.Berpartisipasi dalam kerja kelompok dengan persentase keaktifan 25% – 49% selama proses pembelajaran.Berpatisipasi dalam kerja kelompok dengan persentase keaktifan 0% – 24% selama proses pembelajaran.

4

3

2

1

2.

Kedisiplinan

Sangat disiplin dalam mengerjakan tugas kelompok.Disiplin dalam mengerjakan tugas kelompok.Cukup disiplin dalam mengerjakan tugas kelompok.Kurang disiplin dalam mengerjakan tugas kelompok.

4

3

2

1

3.

Perhatian

Memperhatikan instruksi kerja yang disampaikan dengan persentase perhatian 75% – 100% selama proses pembelajaran.Memperhatikan instruksi kerja yang disampaikan dengan persentase perhatian 50% – 74% selama proses pembelajaran.Memperhatikan instruksi kerja yang disampaikan dengan persentase perhatian 25% – 49% selama proses pembelajaran.Memperhatikan instruksi kerja yang disampaikan dengan persentase perhatian 0% – 24% selama proses pembelajaran.

4

3

2

1

 Lembar Penilaian Afektif

No.

Nama Siswa

Keaktifan

Kedisiplinan

Perhatian

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1.

2.

3.

Dst

 

Kisi-kisi Lembar Penilaian Psikomotor

Indikator

No Butir Soal

Melakukan percobaan kelompok yang berhubungan dengan perubahan wujud benda. Pedoman pengamatan

 Rubrik Penilaian Psikomotor

No.

Aspek Penilaian

Skor

1.

Melakukan percobaan sesuai urutan langkah kerja.

1  2  3  4

2.

Menyalakan lilin dan mengamati perubahannya.

1  2  3  4

3.

Meletakkan kamper di atas lilin yang menyala.

1  2  3  4

4.

Meletakkan es batu dalam gelas kimia dan mengamati perubahannya

1  2  3  4

Keterangan:

4 = Baik sekali         2 = Cukup

3 = Baik                      1 = Kurang

Lembar Penilaian Psikomotor

No

Nama Kelompok

Aspek yang dinilai

Skor

1

2

3

4

1.

  1        
2        
3        
4        

2.

  1        
2        
3        
4        

 

Lampiran Materi Pembelajaran

Perubahan Wujud Benda

1.      Membeku dan Mencair

Bagaimana wujud es dan wujud air? Perhatikan gambar di bawah ini. Es merupakan benda padat yang dapat berubah menjadi air yang berwujud cair. Perubahan wujud benda cair disebut mencair. Sebaliknya, perubahan wujud dari benda cair menjadi benda padat disebut membeku.

2.      Menguap dan Mengembun

Air jika dipanaskan akan berubah wujud dari bentuk cair ke bentuk gas atau dikenal sebagai uap air. Perubahan ini disebut menguap.

Coba amati dinding gelas bagian luar. Pada saat gelas berisi air es, pada dinding gelas terjadi titik-titik air. Titik-titik air berasal dari udara yang berwujud gas berubah menjadi cair. Perubahan ini disebut mengembun.

Mengapa pada pagi hari permukaan daun suka basah? Pagi-pagi sebelum matahari terbit, kita sering melihat rumput dan daun-daun basah oleh embun. Embun itu berasal dari uap air yang ada di udara. Pada malam hari, suhu udara sangat dingin sehingga uap air berubah wujud menjadi titik-titik air yang disebut embun. Ketika matahari semakin tinggi dan suhu udara mulai panas, embun itu menguap kembali.

3.      Menyublim

Kapur barus atau kamper adalah benda padat. Jika kita menyimpan kamper pewangi di ruangan atau kamar mandi, lama-kelamaan akan habis. Ke mana kamper tersebut? Kamper berubah menjadi gas. Buktinya kita dapat merasakan harumnya. Perubahan dari kamper yang padat menjadi gas disebut peristiwa menyublim.

Dari uraian di atas perubahan wujud dapat kembali ke semula disebut mencair, membeku, menguap, mengembun, dan menyublim.

Bagan perubahan wujud tersebut dapat ditulis sebagai berikut.

Padat ke cair = mencair

Padat ke gas = menyublim

Cair ke padat = membeku

Cair ke gas = menguap

Gas ke cair = mengembun

Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan-perubahan wujud benda tersebut adalah perubahan suhu. Contoh perubahan wujud yang dapat diamati sehari-hari, dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel. Contoh Perubahan Wujud Benda

Peristiwa Perubahan Wujud
Mentega dipanaskan Mencair
Kamper di lemari pakaian habis Menyublim
Terjadinya kabut di daerah pegunungan Mengembun
Pakaian basah menjadi kering Menguap
Air di dalam freezer lemari es Membeku

 

 

Makalah “Pembelajaran Terpadu”

•20 April 2011 • 15 Komentar

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Dewasa ini setiap satuan pendidikan secara bertahap harus melaksanakan pengelolaan penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan Peraturan Pemerintah no. 19 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). SNP adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. PP no. 19 ini memberikan arahan tentang delapan standar nasional pendidikan, yang meliputi: (a) standar isi; (b) standar proses; (c) standar kompetensi lulusan; (d) standar pendidik dan tenaga kependidikan; (e) standar sarana dan prasarana; (f) standar pengelolaan; (g) standar pembiayaan; dan (h) standar penilaian pendidikan.

Peserta didik yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga berada pada rentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan seperti IQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya mereka masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (berpikir holistik) dan memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada objek-objek konkret dan pengalaman yang dialami secara langsung.

Saat ini, pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD  kelas I – III untuk setiap mata pelajaran dilakukan secara terpisah, misalnya IPA  2 jam pelajaran, IPS 2 jam pelajaran, dan Bahasa Indonesia 2 jam pelajaran. Dalam pelaksanaan kegiatannya dilakukan secara murni mata pelajaran yaitu hanya mempelajari materi yang berhubungan dengan mata pelajaran itu. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan (berpikir holistik), pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik.

Selain itu, dengan pelaksanaan pembelajaran yang terpisah,  muncul permasalahan pada kelas rendah (I-III) antara lain adalah tingginya angka mengulang kelas dan putus sekolah. Angka mengulang kelas dan angka putus sekolah peserta didik kelas I SD jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelas yang lain. Data tahun 1999/2000 memperlihatkan bahwa angka mengulang kelas satu sebesar 11,6% sementara pada kelas dua 7,51%, kelas tiga 6,13%, kelas empat 4,64%, kelas lima 3,1%, dan kelas enam 0,37%. Pada tahun yang sama angka putus sekolah kelas satu sebesar 4,22%, masih jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelas dua 0,83%, kelas tiga 2,27%, kelas empat 2,71%, kelas lima 3,79%, dan kelas enam 1,78%.

Angka nasional tersebut semakin memprihatinkan jika dilihat dari data di masing-masing propinsi terutama yang hanya memiliki sedikit  taman kanak-kanak. Hal itu terjadi terutama di daerah terpencil. Pada saat ini hanya sedikit peserta didik kelas satu sekolah dasar yang mengikuti pendidikan prasekolah sebelumnya. Tahun 1999/2000 tercatat hanya 12,61% atau 1.583.467 peserta didik usia 4-6 tahun yang masuk taman Kanak-kanak, dan kurang dari 5 % peserta didik berada pada  pendidikan prasekolah lain.

Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan sekolah sebagian besar peserta didik kelas awal sekolah dasar di Indonesia cukup rendah. Sementara itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik yang telah masuk taman kanak-kanak memiliki kesiapan bersekolah lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang tidak mengikuti pendidikan taman kanak-kanak. Selain itu, perbedaan pendekatan, model, dan prinsip-prinsip pembelajaran antara kelas awal sekolah dasar dengan pendidikan pra-sekolah dapat juga menyebabkan peserta didik yang telah mengikuti pendidikan pra-sekolah pun dapat saja mengulang kelas atau bahkan putus sekolah.

Atas dasar pemikiran di atas dan dalam rangka implementasi Standar Isi yang termuat dalam Standar Nasional Pendidikan, maka pembelajaran terpadu sangat penting untuk dilaksanakan di tingkat sekolah dasar, agar pembelajaran di kelas tidak monoton, menyenangkan serta bermakna bagi kehidupan peserta didik.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu:

  1. Apakah yang dimaksud dengan pembelajaran terpadu?
  2. Bagaimanakah prinsip-prinsip dari pembelajaran terpadu?
  3. Apakah ciri-ciri dari pembelajaran terpadu?
  4. Apakah kelebihan dan kelemahan dari pembelajaran terpadu?
  5. Mengapa pembelajaran terpadu penting untuk diterapkan di tingkat sekolah dasar?

C.    Tujuan Penulisan

Dari uraian rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah:

  1. Untuk mendeskripsikan pengertian pembelajaran terpadu.
  2. Untuk mendeskripsikan prisip-prinsip dari pembelajaran terpadu.
  3. Untuk menidentifikasi ciri-ciri dari pembelajaran terpadu.
  4. Untuk menidentifikasi kelebihan dan kelemahan dari pembelajaran terpadu.
  5. Untuk menguraikan alasan pentingnya pembelajaran terpadu untuk diterapkan di tingkat sekolah dasar.

D.    Manfaat Penulisan

Adapun manfaat dari penulisan makalah ini, yaitu:

  1. Dapat dijadikan sebagai bahan bacaan mahasiswa calon guru SD.
  2. Dapat menunjang bahan mata kuliah Pembelajaran Terpadu.
  3. Dapat memberikan pengetahuan bagi pendidik khusunya untuk guru SD tentang model pembelajaran terpadu.

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pembelajaran Terpadu

Beberapa pengertian dari pembelajaran terpadu yang dikemukakan oleh beberapa orang pakar pembelajaran terpadu diantaranya :

1)      menurut Cohen dan Manion (1992) dan Brand (1991), terdapat tiga kemungkinan variasi pembelajaran terpadu yang berkenaan dengan pendidikan yang dilaksanakan dalam suasana pendidikan progresif yaitu kurikulum terpadu (integrated curriculum), hari terpadu (integrated day), dan pembelajaran terpadu (integrated learning). Kurikulum terpadu adalah kegiatan menata keterpaduan berbagai materi mata pelajaran melalui suatu tema lintas bidang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna sehingga batas antara berbagai bidang studi tidaklah ketat atau boleh dikatakan tidak ada. Hari terpadu berupa perancangan kegiatan siswa dari sesuatu kelas pada hari tertentu untuk mempelajari atau mengerjakan berbagai kegiatan sesuai dengan minat mereka. Sementara itu, pembelajaran terpadu menunjuk pada kegiatan belajar yang terorganisasikan secara lebih terstruktur yang bertolak pada tema-tema tertentu atau pelajaran tertentu sebagai titik pusatnya (center core / center of interest);

2)      menurut Prabowo (2000 : 2), pembelajaran terpadu adalah suatu proses pembelajaran dengan melibatkan / mengkaitkan berbagai bidang studi. Dan ada dua pengertian yang perlu dikemukakan untuk menghilangkan kerancuan dari pengertian pembelajaran terpadu di atas, yaitu konsep pembelajaran terpadu dan IPA terpadu.

Menurut Prabowo (2000:2), pembelajaran terpadu merupakan pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi. Pendekatan belajar mengajar seperti ini diharapkan akan dapat memberikan pengalaman yang bermakna kepada anak didik kita. Arti bermakna disini dikarenakan dalam pembelajaran terpadu diharapkan anak akan memperoleh pemahaman terhadap konsep-konsep yang mereka pelajari dengan melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami.

Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan belajar mengajar yang memperhatikan dan menyesuaikan dengan tingkat perkembangan anak didik (Developmentally Appropriate Practical). Pendekatan yang berangkat dari teori pembelajaran yang menolak drill-system sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak.

Langkah awal dalam melaksanakan pembelajaran terpadu adalah pemilihan/ pengembangan topik atau tema. Dalam langkah awal ini guru mengajak anak didiknya untuk bersama-sama memilih dan mengembangkan topik atau tema tersebut. Dengan demikian anak didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan pembuatan keputusan.

Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan terpadu ini diharapkan akan dapat memperbaiki kualitas pendidikan dasar, terutama untuk mencegah gejala penjejalan kurikulum dalam proses pembelajaran di sekolah. Dampak negatif dari penjejalan kurikulum akan berakibat buruk terhadap perkembangan anak. Hal tersebut terlihat dengan dituntutnya anak untuk mengerjakan berbagai tugas yang melebihi kapasitas dan kebutuhan mereka. Mereka kurang mendapat kesempatan untuk belajar, untuk membaca dan sebagainya. Disamping itu mereka akan kehilangan pengalaman pembelajaran alamiah langsung, pengalaman sensorik dari dunia mereka yang akan membentuk dasar kemampuan pembelajaran abstrak (Prabowo, 2000:3).

B.     Prinsip-prinsip Pembelajaran Terpadu

Berikut ini dikemukakan pula prinsip-prinsip dalam pembelajaran terpadu yaitu meliputi : 1) prinsip penggalian tema, 2) prinsip pelaksanaan pembelajaran terpadu, 3) prinsip evaluasi dan 4) prinsip reaksi.

  1. Prinsip penggalian tema antara lain : a). Tema hendaknya tidak terlalu luas, namun dengan mudah dapat digunakan memadukan banyak bidang studi, b). Tema harus bermakna artinya bahwa tema yang dipilih untuk dikaji harus memberikan bekal bagi siswa untuk belajar selanjutnya c). Tema harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis anak. d). Tema yang dikembangkan harus mampu mewadahi sebagian besar minat anak, e). Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan penstiwa-peristiwa otentik yang terjadi dalam rentang waktu belajar, f) Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan kurikulum yang berlaku, serta harapan dari masyarakat, g). Tema yang dipilih hendaknya juga mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar.
  2. Prinsip pelaksanaan terpadu di antaranya : a) guru hendaknya jangan menjadi “single actor “ yang mendominasi pembicaraan dalam proses belajar mengajar, b) pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas  yang menuntut adanya kerjasarna kelompok, c) guru perlu akomodatif terhadap ide-ide yang terkadang sama sekali tidak terpikirkan dalam poses perencanaan.
  3. Prinsip evaluatif adalah : a). memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri di samping bentuk evaluasi lainnya, b) guru perlu mengajak siswa untuk mengevaluasi perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan yang telah disepakati dalam kontrak.
  4. Prinsip reaksi, dampak pengiring (nuturan efek) yang penting  bagi perilaku secara sadar belum tersentuh oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar. Karena itu, guru dituntut agar mampu merencanakan dan melaksanakan pembelajaran sehingga tercapai secara tuntas tujuan-tujuan pembelajaran. Guru harus bereaksi terhadap reaksi siswa dalam semua “event “ yang tidak diarahkan ke aspek yang sempit tetapi ke suatu kesatuan utuh dan bermakna.
    Waktu pembelajaran terpadu bisa bermacam-macam yaitu : a) pembelajaran terpadu yang dilaksanakan pada waktu tertentu, yaitu apabila materi yang dijalankan cocok sekali diajarkan secara terpadu; b) Pembelajaran terpadu bersifat temporer, tanpa kepastian waktu dan bersifat situasional, dimana pelaksanaannya tidak mengikuti jadwal yang teratur, pelaksanaan pembalajaran terpadu secara spontan memiliki karakteristik dengan kegiatan belajar sesuai kurikulum yang isinya masih terkotak-kotak berdasarkan mata pelajaran. Walaupun demikian guru tetap harus merencanakan keterkaitan konseptual atau antar pelajaran, dan model jaring laba-laba memungkinkan dilaksanakan dengan pembelajaran terpadu secara spontan (tim pengembang PGSD, 1996); c) Ada pula yang melaksanakan pembelajaran terpadu secara periodik, misalnya setiap akhir minggu, atau akhir catur wulan. Waktu-waktunya telah dirancang secara pasti; d) Ada pula yang melaksanakan pembelajaran terpadu sehari penuh. Selama satu hari tidak ada pembelajaran yang lain, yang ada siswa belajar dengan yang diinginkan. Siswa sibuk dengan urusannya masing-masing.

Pembelajaran ini dikenal dengan istilah “integrated day “ atau hari terpadu. Diawali dengan kegiatan pengelolaan kelas yang meliputi penyiapan aspek-aspek kegiatan belajar, alat-alat, media dan peralatan lainnya yang dapat menunjang terlaksananya pembelajaran terpadu. Dalam tahap perencanaan guru memberikan arahan kepada murid tentang kegiatan yang akan dilaksanakan, cara pelaksanaan kegiatan, dan cara siswa memperoleh bantuan guru.

Implikasi dari pembelajaran terpadu, bentuk hari terpadu, guru harus menentukan waktu maupun jumlah hari untuk pelaksanaan kegiatan tersebut dan dapat diisi dengan kegiatan pembelajaran terpadu model jaring laba-laba; (4) Pembelajaran terpadu yang terbentuk dari tema sentral.

Implementasinya menuntut dilakukannya pengorganisasian kegiatan yang telah terstruktur. Pengorganisasian pada awal kegiatan mencakup penentuan tema dengan mempertimbangkan alat, bahan, dan sumber yang tersedia, jenis kegiatan serta cara guru membantu siswa. Untuk pelaksanaanya guru bekerjasama dengan guru kelas lainnya dalam merancang kegiatan belajar mengajar dengan memilih tema sentral transportasi dalam kehidupan.

C.    Ciri-ciri Pembelajaran Terpadu

Hilda Karli dan Margaretha (2002:15) mengemukakan beberapa ciri pembelajaran terpadu, yaitu sebagai berikut:

  1. Holistik, suatu peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu dikaji dari beberapa bidang studi sekaligus untuk memahami suatu fenomena dari segala sisi.
  2. Bermakna, keterkaitan antara konsep-konsep lain akan menambah kebermaknaan konsep yang dipelajari dan diharapkan anak mampu menerapkan perolehan belajarnya untuk memecahkan masalah-masalah nyata di dalam kehidupannya.
  3. Aktif, pembelajaran terpadu dikembangkan melalui pendekatan diskoveri-inquiri. Peserta didik terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran yang secara tidak langsung dapat memotivasi anak untuk belajar.

Sejalan dengan itu, Tim Pengembang PGSD (1977:7) mengemukakan bahwa pembelajaran terpadu memiliki ciri-ciri berikut ini.

  1. Berpusat pada anak
  2. Memberikan pengalaman langsung pada anak
  3. Pemisahan antara bidang studi tidak begitu jelas
  4. Memyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam suatu proses pembelajaran.
  5. Bersikap luwes
  6. Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.

D.    Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Terpadu

Pembelajaran terpadu memiliki kelebihan dibandingkan dengan pendekatan konvensional, yaitu sebagai berikut.

  1. Pengalaman dan kegiatan belajar peserta didik akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan anak.
  2. Kegiatan yang dipilih dapat disesuaikan dengan minat dan kebutuhan peserta didik.
  3. Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi peserta didik sehingga hasil belajar akan dapat bertahan lebih lama.
  4. Pembelajaran terpadu menumbuhkembangkan keterampilan berpikir dan sosial peserta didik.
  5. Pembelajaran terpadu menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis dengan permasalahan yang sering ditemui dalam kehidupan/lingkungan riil peserta didik.
  6. Jika pembelajaran terpadu dirancang bersama, dapat meningkatkan kerja sama antar guru bidang kajian terkait, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik, peserta didik/guru dengan nara sumber; sehingga belajar lebih menyenangkan, belajar dalam situasi nyata, dan dalam konteks yang lebih bermakna.

Di samping ada kelebihan di atas, pembelajaran terpadu memiliki kelemahan, terutama dalam pelaksanaannya, yaitu pada perancangan dan pelaksanaan evaluasi yang lebih banyak menuntut guru untuk melakukan evaluasi proses, dan tidak hanya evaluasi dampak pembelajaran langsung saja. Puskur, Balitbang Diknas (ttg:9) mengidentifikasi beberapa kelemahan pembelajaran terpadu antara lain dapat ditinjau dari beberapa aspek, yaitu sebagai berikut.

1. Aspek Guru

Guru harus berwawasan luas, memiliki kreativitas tinggi, keterampilan metodologis yang handal, rasa percaya diri yang tinggi dan berani mengemas dan mengembangkan materi. Secara akademik, guru dituntut untuk terus menggali informasi ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan dan banyak membaca buku agar penguasaan bahan ajar tidak terfokus pada bidang kajian tertentu saja.

2. Aspek Peserta Didik

Pembelajaran terpadu memerlukan bahan bacaan atau sumber informasi yang cukup banyak dan bervariasi, mungkin juga fasilitas internet. Semua ini akan menunjang, memperkaya, dan mempermudah pengembangan wawasan. Bila sarana ini tidak dipenuhi, maka penerapan pembelajaran terpadu juga akan terlambat.

3. Aspek Kurikulum

Kurikulum harus luwes, berorientasi pada pencapaian ketuntasan pemahaman peserta didik (bukan pada pencapaian target penyampaian materi). Guru perlu diberi kewenangan dalam mengembangkan materi, metode, penilaian keberhasilan pembelajaran peserta didik.

4. Aspek Penilaian

Pembelajaran terpadu memerlukan cara penilaian yang menyeluruh (komprehensif), yaitu menetapkan keberhasilan belajar peserta didik dari beberapa bidang kajian terkait yang dipadukan.

5. Aspek Suasana Pembelajaran

Pembelajaran terpadu berkecenderungan mengutamakan salah satu bidang kajian dan ‘tenggelam’nya bidang kajian lain. Dengan kata lain, pada saat mengerjakan sebuah tema, maka guru berkecenderungan menekankan atau mengutamakan substansi gabungan tersebut sesuai dengan pemahaman, selera, dan latar belakang pendidikan guru itu sendiri.

E.     Pentingnya Pembelajaran Terpadu Diterapkan Di Tingkat Sekolah Dasar

Piaget mengemukakan bahwa perkembangan intelektual anak meliputi tahapan: (a) sensori-motor, (b) pra operasional, (c) operasional konkrit, dan (d) operasional formal. Anak-anak usia dini (2-8 th) berada pada tahapan pra operasional dan operasional konkrit, sehingga kalau kita merujuk pada teori ini, dalam praktik pembelajaran di kelas hendaknya guru memperhatikan ciri-ciri perkembangan anak pada tahapan ini. Secara khusus pula para ahli psikologi pendidikan anak mengemukakan bahwa perkembangan anak usia dini bersifat holistik; perkembangan anak bersifat terpadu, di mana aspek perkembangan yang satu terkait erat dan mempengaruhi aspek perkembangan lainnya. Perkembangan fisik tidak bisa dipisahkan dari perkembangan mental, sosial, dan emosional ataupun sebaliknya, dan perkembangan itu akan terpadu dengan pengalaman, kehidupan, dan lingkungannya.

Merujuk pada teori-teori belajar, di antaranya teori Piaget, maka dalam pembelajaran di jenjang SD kelas rendah hendaknya kita menggunakan pendekatan yang berorientasi pada kebutuhan perkembangan anak (DAP atau Developmentally Appropiate Practice). Penggunaan pendekatan DAP ini mengacu pada beberapa asas yang harus diperhatikan oleh guru, yaitu:

  1. asas kedekatan, pembelajaran dimulai dari yang dekat dan dapat dijangkau oleh anak,
  2. asas faktual, pembelajaran hendaknya menapak pada hal-hal yang faktual (konkrit) mengarah pada konseptual (abstrak),
  3. asas holistik dan integratif, pembelajaran hendaknya tidak memilah-milah topik pelajaran, guru harus memikirkan segala sesuatu yang akan dipelajari anak sebagai suatu kesatuan yang utuh dan terpadu,
  4. asas kebermaknaan, pembelajaran hendaknya penuh makna dengan menciptakan banyak proses manipulatif sambil bermain.

Model pembelajaran terpadu tidak hanya cocok untuk peserta didik usia dini, namun bisa juga digunakan untuk peserta didik pada satuan pendidikan SMP/MTs dan SMA/MA, karena pada hakikatnya model pembelajaran ini merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud: 1996:3).

Beberapa alasan pembelajaran terpadu cocok digunakan di tingkat SD sebagai berikut.

  1. Pendidikan di SD harus memperhatikan perkembangan intelektual anak. Sesuai dengan taraf perkembangannya, anak SD melihat dunia sekitarnya secara menyeluruh, mereka belum dapat memisah-misahkan bahan kajian yang satu dengan yang lain.
  2. Di samping memperhatikan perkembangan intelektual anak, guru juga haru mengurangi dampak dari fenomena ini di antaranya anak tidak mampu melihat dan memecahkan masalah dari berbagai sisi, karena ia terbiasa berfikir secara fragmentasi, anak dikhawatirkan tidak memiliki cakrawala pandang yang luas dan integratif. Cakrawala pandang yang luas diperlukan dalam memecahkan permasalahan yang akan mereka hadapi nanti di masyarakat. Jadi merupakan bekal hidup yang sehat dalam memandang manusia secara utuh.

 Integrated atau terpadu bisa mengacu pada integrated curricula (kurikulum terpadu) atau integrated approach (pendekatan terpadu) atau integrated learning (pembelajaran).  Pada pelaksanaannya istilah kurikulum terpadu atau pembelajaran terpadu atau pendekatan terpadu dapat dipertukarkan, seperti dikatakan oleh pakar pendidikan dan guru besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Prof. Dr. Sri Anitah Wiryawan, M.Pd.(Pikiran Rakyat, 11 April 2003) “kurikulum terpadu adalah suatu pendekatan untuk mengorganisasikan kurikulum dengan cara menghapus garis batas mata pelajaran yang terpisah-pisah, sedangkan pembelajaran terpadu merupakan metode pengorganisasian pembelajaran yang menggunakan beberapa bidang mata pelajaran yang sesuai. Istilah kurikulum terpadu dengan pembelajaran terpadu dalam penggunaannya dapat saling dipertukarkan.

Pembelajaran terpadu merupakan suatu aplikasi salah satu startegi pembelajaran berdasarkan pendekatan kurikulum terpadu yang bertujuan untuk menciptakan atau membuat proses pembelajaran secara relevan dan bermakna bagi anak (Atkinson, 1989:9 dalam Ahmad). Selanjutnya dijelaskan bahwa dalam pembelajaran terpadu didasarkan pada pendekatan inquiry, yaitu melibatkan siswa mulai dari merencanakan, mengeksplorasi, dan brain storming dari siswa. Dengan pendekatan terpadu siswa didorong untuk berani bekerja secara kelompok dan belajar dari hasil pengalamannya sendiri. Collins dan Dixon (1991:6 dalam Ahmad) menyatakan tentang pembelajaran terpadu sebagai berikut: integrated learning occurs when an authentic event or exploration of a topic in the driving force in the curriculum. Selanjutnya dijelaskan bahwa dalam pelaksanaannya anak dapat diajak berpartisipasi aktif dalam mengeksplorasi topik atau kejadian, siswa belajar proses dan isi (materi) lebih dari satu bidang studi pada waktu yang sama.

Pembelajaran terpadu sangat memperhatikan kebutuhan anak sesuai dengan perkembangannya yang holistik dengan melibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran baik fisik maupun emosionalnya. Untuk itu aktivitas yang diberikan meliputi aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan yang holistik, bermakna, dan otentik sehingga siswa dapat menerapkan perolehan belajar untuk memecahkan masalah-masalah yang nyata di dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan program DAP yang dikemukakan Bredekamp (1992:7) dalam Ahmad,  pada proses pembelajaran hendaknya menyediakan berbagai aktivitas dan bahan-bahan yang kaya serta menawarkan pilihan bagi siswa sehingga siswa dapat memilihnya untuk kegiatan kelompok kecil maupun mandiri dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk berinisiatif sendiri, melakukan keterampilan atas prakarsa sendiri sebagai aktivitas yang dipilihnya.  Pembelajaran terpadu juga menekankan integrasi berbagai aktivitas untuk mengeksplorasi objek, topik, atau tema yang merupakan kejadian-kejadian, fakta, dan peristiwa yang otentik. Pelaksanaan pembelajaran terpadu pada dasarnya agar kurikulum itu bermakna bagi anak. Hal ini dimaksudkan agar bahan ajar tidak digunakan secara terpisah-pisah, tetapi merupakan suatu kesatuan bahan yang utuh dan cara belajar yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan siswa.

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Pembelajaran terpadu sebagai suatu proses mempunyai beberapa ciri yaitu : berpusat pada anak (student centered), proses pembelajaran mengutamakan pemberian pengalaman langsung, serta pemisahan antar bidang studi tidak terlihat jelas. Disamping itu pembelajaran terpadu menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam satu proses pembelajaran. Kecuali mempunyai sifat luwes, pembelajaran terpadu juga memberikan hasil yang dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.

Salah satu keterbatasan yang menonjol dari pembelajaran terpadu adalah pada faktor evaluasi. Pembelajaran terpadu menuntut diadakannya evaluasi tidak hanya pada produk, tetapi juga pada proses. Evaluasi pembelajaran terpadu tidak hanya berorientasi pada dampak instruksional dari proses pembelajaran, tetapi juga pada proses dampak pengiring dari proses pembelajaran tersebut. Dengan demikian pembelajaran terpadu menuntut adanya teknik evaluasi yang banyak ragamnya.
Jadi, pembelajaran terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif mencari, menggali dan mengemukakan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan otentik.

B.     Saran

Masalah pembelajaran yang dihadapi para pendidik saat ini semakin kompleks. Untuk itu para pendidik khususnya para guru di SD diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam menciptakan dan mengembangkan model-model pembelajaran, agar dapat menunjang terciptanya proses belajar mengajar di kelas yang lebih bermakna dan menyenangkan bagi peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

Indrawati. 2009. Model Pembelajaran Terpadu Di Sekolah Dasar. Jakarta: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA).

http://anwarholil.blogspot.com/2008/04/pengertian-pembelajaran-terpadu.html

http://pembelajaranguru.wordpress.com/2008/05/20/model-pembelajaran-tematik-pembelajaran-terpadu-latar-belakang-mengapa-disarankan-untuk-digunakan-di-sd-dan-mi/

http://rbaryans.wordpress.com/2007/04/19/mengapa-memilih-pembelajaran-terpadu/

http://www.p4tkipa.org/data/pembelajaranterpadu.pdf

http://xpresiriau.com/artikel-tulisan-pendidikan/prinsip-prinsip-pembelajaran-terpadu/

Tim Pengembang PGSD. 1996. Pembelajaran Terpadu D-II PGSD dan S-2 Pendidikan Dasar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Model EEK (Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi)

•20 April 2011 • 25 Komentar

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Satuan Pendidikan    :  SD Negeri Kotagede I

Mata Pelajaran          :  Matematika

Kelas/Semester          :  V (Lima) / II (Dua)

Materi Pokok             :  Bangun Datar

Alokasi Waktu           :  8 x 35 menit (4 x pertemuan)

 A.    Standar Kompetensi

Memahami sifat-sifat bangun dan hubungan antarbangun.

B.     Kompetensi Dasar

Mengidentifikasi sifat bangun datar.

C.    Indikator Pembelajaran

  1. Mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar trapesium.
  2. Menentukan rumus luas dan keliling bangun datar trapesium.
  3. Memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan penggunaan rumus luas dan keliling bangun datar trapesium.
  4. Mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar jajargenjang.
  5. Menentukan rumus luas dan keliling bangun datar jajargenjang.
  6. Memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan penggunaan rumus luas dan keliling bangun datar jajargenjang.
  7. Mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar belah ketupat.
  8. Menentukan rumus luas dan keliling bangun datar belah ketupat.
  9. Memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan penggunaan rumus luas dan keliling bangun datar belah ketupat.
  10. Mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar layang-layang.
  11. Menentukan rumus luas dan keliling bangun datar layang-layang.
  12. Memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan penggunaan rumus luas dan keliling bangun datar layang-layang.

D.    Tujuan Pembelajaran

Setelah memperhatikan alat peraga dan mendengarkan penjelasan dari guru, maka diharapkan:

  1. Siswa dapat mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar trapesium.
  2. Siswa dapat menentukan rumus luas dan rumus kelilng bangun datar trapesium.
  3. Siswa dapat memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan penggunaan rumus luas dan keliling bangun datar trapesium.
  4. Siswa dapat mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar jajargenjang.
  5. Siswa dapat menentukan rumus luas dan rumus kelilng bangun datar jajargenjang.
  6. Siswa dapat memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan penggunaan rumus luas dan keliling bangun datar jajargenjang.
  7. Siswa dapat mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar belah ketupat.
  8. Siswa dapat menentukan rumus luas dan rumus keliling bangun datar belah ketupat.
  9. Siswa dapat memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan penggunaan rumus luas dan keliling bangun datar belah ketupat.
  10. Siswa dapat mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar layang-layang.
  11. Siswa dapat menentukan rumus luas dan rumus keliling bangun datar layang-layang.
  12. Siswa dapat memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan penggunaan rumus luas dan keliling bangun datar layang-layang.

Karakter siswa yang diharapkan :        Disiplin (discipline), rasa homat dan perhatian (respect), tekun (dilligence), kooperatif (cooperative) dan bertanggungjawab (responsibility).

E.     Metode/Pendekatan Pembelajaran

1.      Metode Pembelajaran

  1. Ceramah
  2. Diskusi
  3. Tanya-jawab
  4. Tutor sebaya
  5. Penugasan
  6. Kerja kelompok

2.      Pendekatan Pembelajaran

Cooperative Learning Tipe GI (Group Investigation)

F.     Materi Essensial

Sifat-sifat bangun datar

  • Trapesium
  • Jajargenjang
  • Belahketupat
  • Layang-layang

Menghitung luas dan keliling bangun datar

G.    Sumber/Alat Pembelajaran

  1. Buku Cerdas Matematika 5B untuk Sekolah Dasar Kelas V Semester Kedua, Yudhistira.
  2. Buku Terampil Berhitung Matematika untuk SD Kelas V, Penerbit Erlangga.
  3. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Dasar, Model Silabus Kelas V SD, BSNP.
  4. LKS (lembar kegiatan siswa)
  5. Gambar bangun datar

H.    Langkah-langkah Kegiatan Belajar Mengajar

1. Pertemuan I (70 Menit)

a.      Kegiatan Awal (7 Menit)

Jenis Kegiatan

Alokasi Waktu

  1. Apersepsi dan motivasi
  2. Mengingat kembali pelajaran tentang bangun datar.
  3. Menyampaikan indikator pencapaian kompetensi yang diharapkan.
  4. Mengidentifikasi topik dan mengatur siswa dalam kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 5-6 orang siswa.

2 menit

5 menit

b.      Kegiatan Inti (58 Menit)

Jenis Kegiatan

Alokasi Waktu

Eksplorasi

  1. Guru menawarkan sebuah topik (trapesium) yang akan dipelajari hari ini pada siswa.
  2. Guru membagikan LKS (Lembar Kegiatan Siswa) sebagai pedoman kegiatan yang akan dilakukan siswa di dalam kelompoknya.
  3. Siswa memahami sifat-sifat bangun datar trapesium beserta rumus luas dan kelilingnya.
  4. Siswa secara mandiri bersama kelompoknya bekerja sama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.

11 Menit

Elaborasi

  1. Siswa mengkaji, menginvestigasi dan mengumpulkan informasi tentang sifat-sifat bangun datar trapesium secara kooperatif yang nantinya akan dipresentasikan di depan kelas, berdasarkan instruksi yang ada dalam lembar kegiatan siswa.
  2. Siswa dalam kelompoknya saling memberikan kontribusi, saling bertukar dan berdiskusi tentang semua gagasan.
  3. Siswa secara berkelompok mengisi lembar kegiatan siswa yang telah dibagikan.
  4. Siswa menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan luas dan keliling bangun datar trapesium.
  5. Siswa merencanakan dan membuat laporan hasil diskusi.
  6. Guru mengawasi kegiatan kerja kelompok yang sedang berlangsung dan memberikan bantuan seperlunya pada kelompok yang mengalami kendala dalam pengkajian topik.
  7. Masing-masing kelompok diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya masing-masing di depan kelas.
  8. Siswa dari kelompok lain diberikan kesempatan untuk bertanya atau memberikan tambahan jawaban pada kelompok penyaji, berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya oleh seluruh kelompok.

30 Menit

Konfirmasi

  1. Guru mengumumkan perolehan poin yang telah diraih masing-masing kelompok pada hari ini.
  2. Siswa diberikan kesempatan untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami.
  3. Siswa bersama guru melakukan refleksi untuk pembelajaran pada hari ini.

17 Menit

c.       Kegiatan Penutup (5 Menit)

Jenis Kegiatan

Alokasi Waktu

Siswa bersama guru memberikan kesimpulan bahwa

Trapesium adalah bangun datar segiempat dengan dua buah sisinya yang berhadapan sejajar.

3 menit

Guru memberikan tugas rumah pada siswa.

2 Menit

 2. Pertemuan II (70 menit)

a.      Kegiatan Awal (10 Menit)

Jenis Kegiatan

Alokasi Waktu
  1. Apersepsi dan motivasi:
  2. Mengingat kembali materi pelajaran pada pertemuan sebelumnya.
  3. Menyampaikan indikator pencapaian kompetensi yang diharapkan.
  4. Siswa diarahkan untuk membentuk kelompok sesuai pada pertemuan sebelumnya.

7 Menit

b.       Kegiatan Inti (55 Menit)

Jenis Kegiatan

Alokasi Waktu

Eksplorasi

  1. Masing-masing kelompok mengecek alat dan bahan yang diperlukan untuk kegiatan hari ini.
  2. Guru membagikan LKS (Lembar Kegiatan Siswa) sebagai pedoman kegiatan yang akan dilakukan siswa di dalam kelompoknya.
  3. Siswa belajar memahami konsep dan sifat-sifat bangun datar jajargenjang secara berkelompok.

5 Menit

Elaborasi

  1. Siswa diberikan tugas oleh guru untuk membuat gambar bangun datar sesuai topik yang telah disepakati pada hari ini (topik: Jajargenjang).
  2. Berdasarkan gambar tersebut siswa melakukan investigasi dan mengumpulkan informasi secara kooperatif tentang sifat-sifat dari bangun datar tersebut.
  3. Siswa bekerja sama dalam kelompoknya untuk mengisi lembar kegiatan siswa yang telah dibagikan.
  4. Siswa berpikir kritis serta menganalisis soal yang diberikan sebagai contoh permasalahan yang harus dipecahkan bersama-sama.
  5. Siswa secara kooperatif membuat laporan hasil investigasi materi yang akan dipresentasikan di depan kelas.
  6. Guru mengawasi kegiatan kerja kelompok yang sedang berlangsung dan memberikan bantuan seperlunya pada kelompok yang mengalami kendala dalam pengkajian topiknya masing-masing.
  7. Masing-masing kelompok diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya masing-masing di depan kelas.
  8. Siswa dari kelompok lain memperhatikan kelompok penyaji dan bersiap untuk memberikan pertanyaan atau tambahan jawaban terhadap materi yang disajikan, berdasarkan kriteria yang telah disepakati sebelumnya oleh seluruh kelompok.

33 Menit

Konfirmasi

  1. Guru mengumumkan perolehan poin yang telah diraih masing-masing kelompok pada hari ini.
  2. Siswa diberikan kesempatan untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami.
  3. Siswa bersama guru melakukan refleksi untuk pembelajaran pada hari ini.

17 menit

c.      Kegiatan Penutup (5 Menit)

Jenis Kegiatan

Alokasi Waktu

Siswa bersama guru membuat kesimpulan bahwa

Jajargenjang adalah bangun datar segiempat dengan sisi-sisinya yang berhadapan sejajar dan sama panjang.

3 menit

Guru memberikan tugas rumah pada siswa.

2 menit

 3. Pertemuan III

a.      Kegiatan Awal (10 Menit)

Jenis Kegiatan

Alokasi Waktu
  1. Apersepsi dan motivasi:
  2. Mengingat kembali materi pelajaran pada pertemuan sebelumnya.
  3. Menyampaikan indikator pencapaian kompetensi yang diharapkan.
  4. Siswa siswa diarahkan untuk membentuk kelompok sesuai kelompok yang telah disepakati pada pertemuan sebelumnya.

3 menit

2 menit

5 menit

 c.       Kegiatan Inti (55 Menit)

Jenis Kegiatan

Alokasi Waktu

Eksplorasi

  1. Siswa bersama guru membahas tugas rumah yang telah diberikan pada pertemua sebelumnya.
  2. Guru membagikan LKS sebagai pedoman bagi siswa untuk menyelesaik tugas oada hari ini.
  3. Siswa memahami konsep dan sifat-sifat bangun datar belah ketupat.

8 Menit

Elaborasi

  1. Siswa diberikan tugas oleh guru untuk mengkaji sifat-sifat beserta rumus luas dan keliling bangun datar belah ketupat.
  2. Siswa melakukan investigasi dan mengumpulkan informasi secara kooperatif yang nantinya akan dipresentasikan di depan kelas.
  3. Siswa dengan bimbingan guru menjawab soal-soal yang ada di lembar kegiatan siswa.
  4. Siswa membuat laporan hasil investigasi materi yang telah diperoleh secara kooperatif.
  5. Guru mengawasi kegiatan kerja kelompok yang sedang berlangsung dan memberikan bantuan seperlunya pada kelompok yang mengalami kendala dalam pengkajian topiknya masing-masing.
  6. Masing-masing kelompok diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya masing-masing di depan kelas.
  7. Siswa dari kelompok lain memperhatikan pemaparan hasil diskusi dari kelompok penyaji dan bersiap untuk memberikan pertanyaan atau tambahan jawab pada materi yang telah disajikan, berdasarkan kriteria yang telah disepakati sebelumnya oleh seluruh kelompok.

30 Menit

Konfirmasi

  1. Guru mengumumkan perolehan poin yang telah diraih masing-masing kelompok pada hari ini.
  2. Siswa diberikan kesempatan untuk bertanya mengenai materi yang belum dipahami.
  3. Siswa bersama guru membuat refleksi untuk pembelajaran pada hari ini.

17 menit

c.      Kegiatan Penutup (5 Menit)

Jenis Kegiatan

Alokasi Waktu

Siswa bersama guru membuat kesimpulan bahwa

Belah ketupat merupakan bangun datar segiempat, yang keempat sisinya sama, dan sudut-sudut yang berhadapan sama besar.

3 menit

Guru memberikan tugas rumah pada siswa.

2 Menit

 4. Pertemuan IV

a.      Kegiatan Awal (10 Menit)

Jenis Kegiatan

Alokasi Waktu
  1. Apersepsi dan motivasi
  • Mengingat kembali materi pelajaran pada pertemuan sebelumnya.
  • Menyampaikan indikator pencapaian kompetensi.
  1. Siswa kembali membentuk kelompok sesuai kelompok yang telah disepakati pada pertemuan sebelumnya.

5 menit

5 menit

b.      Kegiatan Inti (57 Menit)

Jenis Kegiatan

Alokasi Waktu

Eksplorasi

  1. Siswa bersama guru membahas tugas rumah yang telah diberikan pada pertemuan sebelumnya.
  2. Guru membagikan LKS sebagai pedoman instruksi tugas yang harus diselesaikan siswa pada hari ini.
  3. Siswa memahami konsep dan sifat-sifat bangun datar layang-layang secara mandiri dan berkelompok.

5 Menit

Elaborasi

  1. Siswa diberikan tugas oleh guru untuk mengkaji sifat-sifat beserta rumus luas dan keliling bangun datar layang-layang.
  2. Siswa melakukan investigasi dan mengumpulkan informasi secara kooperatif yang nantinya akan dipresentasikan di depan kelas.
  3. Siswa dengan bimbingan guru menjawab soal yang ada di lembar kegiatan siswa.
  4. Siswa membuat laporan hasil investigasi materi yang telah diperoleh secara kooperatif di dalam kelompoknya masing-masing.
  5. Guru mengawasi kegiatan kerja kelompok yang sedang berlangsung dan memberikan bantuan seperlunya pada kelompok yang mengalami kendala dalam pengkajian topiknya masing-masing.
  6. Masing-masing kelompok diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya masing-masing di depan kelas.
  7. Siswa mengevaluasi kejelasan dan penampilan presentasi berdasarkan kriteria yang telah disepakati.

34 Menit

Konfirmasi

  1. Guru mengumumkan perolehan poin yang telah diraih masing-masing kelompok pada hari ini, sekaligus mengumumkan dan memberikan hadiah untuk kelompok terbaik.
  2. Siswa diberikan kesempatan untuk bertanya mengenai materi pelajaran yang belum dipahami.
  3. Siswa bersama guru melakukan refleksi untuk pembelajaran pada hari ini.

18 menit

c.       Kegiatan Penutup (4 Menit)

Jenis Kegiatan

Alokasi Waktu

Siswa bersama guru membuat kesimpulan bahwa
Layang-layang memiliki sifat-sifat sebagai berikut.

  1. Layang-layang mempunyai satu sumbu simetri.
  2. Terdapat 2 pasang sisi yang sama panjang.
  3. Terdapat sepasang sudut berhadapan yang sama besar.

Salam penutup.

3 menit

3 menit

 I.       Evaluasi Pembelajaran

1.      Prosedur Evaluasi

  1. Penilaian proses (terlampir)
  2. Postes

2.      Jenis Evaluasi

Tes tertulis

3.      Bentuk Evaluasi

Pilihan ganda

4.      Alat Evaluasi

(Terlampir)

J.      Skor Penilaian

Untuk soal pilihan ganda yang terjawab dengan benar, skornya = 15. Jadi, jumlah skor untuk soal pilihan ganda =  15/15 x 100 = 100.

K.    Kriteria Keberhasilan

Siswa berhasil/kompeten dengan nilai minimal = 70.

Makalah ‘Objek Evaluasi Pendidikan’

•1 Februari 2011 • 15 Komentar

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kalau kita perhatikan dunia pendidikan, kita akan mengetahui bahwa setiap jenis atau bentuk pendidikan pada waktu-waktu tertentu selama satu periode pendidikan, selalu mengadakan evaluasi. Artinya pada waktu-waktu tertentu selama satu periode pendidikan, selalu mengadakan penilaian terhadap hasil yang telah dicapai, baik oleh pihak terdidik maupun oleh pendidik.

Demikian pula dalam satu kali proses pembelajaran, guru hendaknya menjadi seorang evaluator yang baik. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai atau belum, dan apakah materi pelajaran yang diajarkan sudah tepat. Semua pertanyaan tersebut akan dapat dijawab melalui kegiatan evaluasi atau penilaian.

Dengan menelaah pencapaian tujuan pengajaran, guru dapat mengetahui apakah proses belajar yang dilakukan cukup efektif memberikan hasil yang baik dan memuaskan atau sebaliknya. Jadi jelaslah bahwa guru hendaknya mampu dan terampil melaksanakan penilaian, karena dengan penilaian guru dapat mengetahui prestasi yang dicapai oleh siswa setelah ia melaksanakan proses belajar.

Dalam fungsinya sebagai penilai hasil belajar siswa, guru hendaknya terus menerus mengikuti hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa dari waktu ke waktu. Informasi yang diperoleh melalui evaluasi ini merupakan umpan balik (feed back) terhadap proses belajar mengajar. Umpan balik ini akan dijadikan titik tolak untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar selanjutnya. Dengan demikian proses belajar mengajar akan terus dapat ditingkatkan untuk memperoleh hasil yang optimal.

Pada mata pelajaran tertentu evaluasi kadang dilaksanakan pada akhir pelajaran, dan ada juga pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Kapan waktu pelaksanaan evaluasi tersebut tidak menjadi masalah bagi guru yang penting dalam satu kali pertemuan ia telah melaksanakan penilaian terhadap siswa di kelas.

Tetapi ada juga guru yang enggan melaksanakan evaluasi di akhir pelajaran, karena keterbatasan waktu, menurut mereka lebih baik menjelaskan semua materi pelajaran sampai tuntas untuk satu kali pertemuan, dan pada pertemuan berikutnya di awal pelajaran siswa diberi tugas atau soal-soal yang berhubungan dengan materi tersebut.

Ada juga guru yang berpendapat, bahwa penilaian di akhir pelajaran tidak mutlak dengan tes tertulis. Bisa juga dengan tes lisan atau tanya jawab. Kegiatan dirasakan lebih praktis bagi guru, karena guru tidak usah bersusah payah mengoreksi hasil evaluasi anak. Tetapi kegiatan ini mempunyai kelemahan yaitu anak yang suka gugup walaupun ia mengetahui jawaban dari soal tersebut, ia tidak bisa menjawab dengan tepat karena rasa gugupnya itu. Dan kelemahan lain tes lisan terlalu banyak memakan waktu dan guru harus punya banyak persediaan soal. Tetapi ada juga guru yang mewakilkan beberapa orang anak yang pandai, anak yang kurang dan beberapa orang anak yang sedang kemampuannya utnuk menjawab beberapa pertanyaan atau soal yang berhubungan dengan materi pelajaran itu.

Cara mana yang akan digunakan oleh guru untuk evaluasi tidak usah dipermasalahkan, yang jelas setiap guru yang paham dengan tujuan dan manfaat dari evaluasi atau penialaian tersebut.

Karena ada juga guru yang tidak mengiraukan tentang kegiatan ini, yang penting ia masuk kelas, mengajar, mau ia laksanakan evaluasi di akhir pelajaran atau tidak itu urusannya. Yang jelas pada akhir semester ia telah mencapai target kurikulum.

Akhir-akhir ini kalau kita teliti di lapangan, banyak guru yang mengalami kegagalan dalam melaksanakan evaluasi di akhir pelajaran. Hal ini tentu ada faktor penyebabnya dan apakah cara untuk mengatasinya.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka hal-hal yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu:

  1. Apakah yang dimaksud dengan evaluasi pendidikan?
  2. Apa tujuan dan fungsi evaluasi pendidikan?
  3. Apakah objek evaluasi itu?
  4. Apa sajakah yang menjadi unsur-unsur objek evaluasi pendidikan?

 

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk:

  1. Mendeskripsikan pengertian evaluasi pendidikan.
  2. Mengetahui apa tujuan dan fungsi evaluasi pendidikan.
  3. Menjelaskan tentang objek evaluasi.
  4. Menguraikan unsur-unsur objek evaluasi pendidikan.

 

D. Manfaat Penulisan

Selain memiliki tujuan penulisan, makalah ini pun memiliki manfaat penulisannya, yaitu:

  1. Dapat digunakan sebagai referensi Mahasiswa PGSD dalam Mata Kuliah Evaluasi Pendidikan.
  2. Dapat digunakan sebagai pedoman guru yang hendak melaksanakan kegiatan evaluasi di kelas.
  3. Dapat memberikan tambahan pengetahuan tentang pendidikan yang sedang berkembang saat ini.

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Evaluasi Pendidikan

Menurut pengertian bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (John M. Echols dan Hasan Shadily: 1983). Menurut Stufflebeam, dkk (1971) mendefinisikan evaluasi sebagai the process of delineating, obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives,” Artinya evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan.

Sedangkan, Rooijackers Ad mendefinisikan evaluasi sebagai “setiap usaha atau proses dalam menentukan nilai”. Secara khusus evaluasi atau penilaian juga diartikan sebagai proses pemberian nilai berdasarkan data kuantitatif hasil pengukuran untuk keperluan pengambilan keputusan. Dan menurut Anne Anastasi (1978) mengartikan evaluasi sebagai “a systematic process of determining the extent to which instructional objective are achieved by pupils”. Evaluasi bukan sekadar menilai suatu aktivitas secara spontan dan insidental, melainkan merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik, dan terarah berdasarkan tuiuan yang jelas.

Evaluasi berkaitan erat dengan pengukuran dan penilaian yang pada umumnya diartikan tidak berbeda (indifferent), walaupun pada hakekatnya berbeda satu dengan yang lain. Pengukuran (measurement) adalah proses membandingkan sesuatu melalui suatu kriteria baku (meter, kilogram, takaran dan sebagainya), pengukuran bersifat kuantitatif. Penilaian adalah suatu proses transformasi dari hasil pengukuran menjadi suatu nilai. Evaluasi meliputi kedua langkah di atas yakni mengukur dan menilai yang digunakan dalam rangka pengambilan keputusan.

Evaluasi pendidikan memberikan manfaat baik bagi siswa/peserta pendidikan, pengajar maupun manajemen. Dengan adanya evaluasi, peserta didik dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan yang telah digapai selama mengikuti pendidikan. Pada kondisi dimana siswa mendapatkan nilai yang mernuaskan maka akan memberikan dampak berupa suatu stimulus, motivator agar siswa dapat lebih meningkatkan prestasi. Pada kondisi dimana hasil yang dicapai tidlak mernuaskan maka siswa akan berusaha memperbaiki kegiatan belajar, namun demikian sangat diperlukan pemberian stimulus positif dari guru/pengajar agar siswa tidak putus asa. Dari sisi pendidik, hasil evaluasi dapat digunakan sebagai umpan balik untuk menetapkan upaya upaya meningkatkan kualitas pendidikan.

B. Tujuan dan Fungsi Evaluasi Pendidikan

Segala sesuatu yang di lakukan pasti mempunyai tujuan dan fungsi yang akan di capai, pastinya semua aktifitas tidak ingin hasilnya sia-sia, begitupun dengan evaluasi, ada tujuan dan fungsi yang ingin di capai, Evaluasi telah memegang peranan penting dalam pendidikan antara lain memberi informasi yang dipakai sebagai dasar untuk :

  1. Membuat kebijaksanaan dan keputusan
  2. Menilai hasil yang dicapai para pelajar
  3. Menilai kurikulum
  4. Memberi kepercayaan kepada sekolah
  5. Memonitor dana yang telah diberikan
  6. Memperbaiki materi dan program pendidikan
  7. Tujuan Evaluasi

Pada dasarnya evaluasi merupakan proses penyusunan deskripsi siswa, baik secara kuantitatif maupun secara kulaitatif. Secara lugas evaluasi untuk  mengukur kemampuan ranah cipta, rasa, dan karsa siswa.

  1. Untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu kurun waktu proses belajar tertentu.
  2. Untuk mengetahui posisi atau kedudukan seorang siswa di dalam kelompok kelasnya.apakah sisiwa tersebut termasuk kategori lambat, sedang, atau cepat.
  3. Untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan seorang siswa dalam belajar. Apakah menunjukan tingkat usaha yang efisien atau tidak.
  4. Untuk mengetahui hingga sejauh mana seorang siswa telah mendayagunakan kafasitas kognitifnya.
  5. Untuk mengetahui tingkat daya guna dan hasil guna metode mengajar yang telah digunakan oleh seorang guru dalam proses belajar-mengajar.
  6. Fungsi Evaluasi

Selain memiliki tujuan, evaluasi belajar juga memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut, antara lain:

1. Fungsi evaluasi bagi siswa

Bagi siswa, evaluasi digunakan untuk mengukur pencapaian keberhasilannya dalam mengikuti pelajaran yang telah diberikan oleh guru. Dalam hal ini ada dua kemungkinan :

1)     Hasil bagi siswa yang memuaskan

Jika siswa memperoleh hasil yang emuaskan, tentunya kepuasan ini ingin diperolehnya kembali pada waktu yang akan datang. Untuk ini siswa akan termotifasi untuk belajar lebih giat agar perolehannya sama bahkan meningkat pada masa yang akan datang. Namun, dapat pula terjadi sebaliknya, setelah memperoleh hasil yang memuaskan siswa tidak rajin belajar sehingga pada waktu berikutnya hasilnya menurun.

2)     Hasil bagi siswa yang tidak memuaskan

Jika siswa memperoleh hasil yang tidak memuaskan, maka pada kesempatan yang akan datang dia akan berusaha memperbaikinya. Oleh karena itu, siswa akan giat belajar. Tetapi bagi siswa yang kurang motivasi atau lemah kemauannya akan menjadi putus asa.

2. Fungsi evaluasi bagi guru

1)     Dapat mengetahui siswa manakah yang menguasai pelajran dan siswa mana pula yang belum. Dalam hal ini hendaknya guru memberikan perhatian kepada siswa yang belum berhasil sehingga pada akhirnya siswa mencapai keberhasilan yang diharapkan.

2)     Dapat mengetahui apakah tujuan dan materi pelajaran yang telah disampaikan itu dikuasai oleh siswa atau belum.

3)     Dapat mengetahui ketepatan metode yang digunakan dalam menyajikan bahan pelajaran tersebut.

4)     Bila dari hasil evaluasi itu tidak berhasil, maka dapat dijadikan bahan remidial. Jadi, evaluasi dapat dijadikan umpan balik pengajaran.

3. Fungsi evaluasi bagi sekolah

1)     Untuk mengukur ketepatan kurikulum atau silabus. Melalui evaluasi terhadap pengajaran yang dilakukan oleh guru, maka akan dapat diketahui apakah ketepatan kurikulum telah tercapai sesuai dengan target yang telah ditentukan atau belum. Dari hasil penilaian tersebut juga sekolah dapat menetapkan langkah-langkah untuk perencanaan program berikutnya yang lebih baik.

2)     Untuk mengukur tingkat kemajuan sekolah. Sudah barang tentu jika hasil penilaian yang dilakukan menunjukkan tanda-tanda telah terlaksananya kurikulum sekolah dengan baik, maka berarti tingkat ketepatan dan kemajuan telah tercapai sebagaimana yang diharapkan. Akan tetapi sebaliknya jika tand-tanda itu menunjukkan tidak tercapainya sasaran yang diharapkan, maka dapat dikatakan bahwa tingkat ketepatan dan kemajuan sekolah perlu ditingkatkan.

3)     Mengukur keberhasilan guru dalam mengajar. Melalui evaluasi yang telah dilaksanakan dalam pengajaran merupakan bahan informasi bagi guru untuk mengetahui tingkat keberhasilan dalam melaksanakan pengajaran.

4)     Untuk meningkatkan prestasi kerja. Keberhasilan dan kemajuan yang dicapai dalm pengajaran akan mendorong bagi sekolah atau guru untuk terus meningkatkan prestasi kerja yang telah dicapai dan berusaha memperbaiki kelemahan dan kekurangan yang mungkin terjadi.

 

C. Objek Evaluasi

Objek evaluasi biasa disebut juga dengan sasaran evaluasi. Yaitu segala sesuatu yang menjadi titik pusat pengamatan karena penilai menginginkan informasi tentang sesuatu tersebut.

Obyek evaluasi pendidikan dilihat dari aspek inputnya, maka objek dari evaluasi pendidikan itu sendiri meliputi tiga aspek, yaitu:

1. Aspek Kognitif (Kemampuan)

Kemampuan calon peserta didik yang akan mengikuti program pendidikan sebagai taruna Akademi Angkatan Laut tentu harus dibedakan dengan kemampuan calon peserta didik yang akan mengikuti program pendidikan pada sebuah perguruan tinggi agama islam. Adapun alat yang biasa digunakan dalam rangka mengevaluasi kemampuan peserta didik itu adalah tes kemampuan (attitude tes).

2. Aspek Psikomotor (Kpribadian)

Kepribadian adalah sesuatu yang terdapat pada diri seseorang, yang menampakkan bentuknya dari tingkah lakunya. Sebalum mengikuti program pendidikan tertentu, para calon peserta didik perlu terlebih dahulu dievaluasi kepribadiannya masing-masing, sebab baik burukya kepribadian mereka secara psikologis akan dapat mempengaruhi keberhasilan mereka dalam mengikuti program tertentu. Evaluasi yang dilakukan untuk mengetahui atau mengungkap kepribadian seseoarng adalah dengan jalan menggunakan tes kepribadian (personality test).

3. Aspek Afektif (Sikap)

Sikap, pada dasarnya adalah merupakan bagian dari tingkah laku manusia, sebagai gejala atau gambaran kepribadian yang memencar keluar. Namun karena sikap ini merupakan sesuatu yang paling menonjol dan sangat dibutuhkan dalam pergaulan, maka diperoleh informasi mengenai sikap seseorang adalah penting sekali. Karena itu maka aspek sikap tersebut perlu dinilai atau dievaluasi terlebih dahulu bagi para calon peserta didik sebelum mengikuti program pendidikan tertentu.

 

D. Unsur-unsur Objek Evaluasi Pendidikan

1. Input

Calon siswa sebagai pribadi yang utuh, dapat ditinjau dari beberapa segi yang menghasilkan bermacam-macam bentuk tes yang digunakan sebagai alat untuk mengukur. Aspek yang bersifat rohani setidak-tidaknya mencakup 4 hal.

a. Kemampuan

Untuk dapat mengikuti program dalam suatu lembaga/sekolah/institusi maka calon siswa harus memiliki kemampuan yang sepadan. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur kemampuan ini disebut tes kemampuan atau attitude test.

b. Kepribadian

Kepribadian adalah sesuatu yang terdapat pada diri manusia dan menampakkan bentuknya dalam tingkah laku. Dalam hal-hal tertentu, informasi tentang kepribadian sangat diperlukan. Alat untuk mengetahui kepribadian seseorang disebut tes kepribadian atau pesonality test.

c. Sikap-sikap

Sebenarnya sikap ini merupakan bagian dari tingkah laku manusia sebagai gejala atau gambaran kepribadian yang memancar keluar. Namun karena sikap ini merupakan sesuatu yang paling menonjol an sangat dibutuhkan dalam pergaulan maka banyak orang yang menginginkan informasi khusus tentangnya. Alat untuk mengukur keadaan sikap seseorang dinamakan tes sikap atau attitude test. Oleh karena tes ini berupa skala, maka lalu disebut skala sikap atau attitude scale.

d. Inteligensi

Untuk mengetahui tingkat inteligensi ini digunakan tes inteligensi yang sudah banyak diciptakan oleh para ahli. Dalam hal ini yang terkenal adalah tes buatan Binet dan Simon yang dikenal dengan tes Binet-Simon. Selain itu ada lagi tes-tes yang lain misalnya SPM, Tintum, dan sebagainya. Dari hasil tes akan diketahui IQ (Intelligence Quotient) orang tersebut.

2. Transformasi

Unsur-unsur dalam transformasi yang menjadi objek penilaian antara lain:

  1. Kurikulum/materi
  2. Metode dan cara penilaian
  3. Sarana pendidikan/media
  4. Sistem administrasi
  5. Guru dan personal lainnya

3. Output

Penilaian terhadap lulusan suatu sekolah dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat pencapaian/prestasi belajar mereka selama mengikuti program. Alat yang digunakan untuk mengukur pencapaian ini disebut tes pencapaian atau achievement test.

Kecenderungan yang ada sampai saat ini di sekolah adalah bahwa guru hanya menilai prestasi belajar aspek kognitif atau kecerdasan saja. Alatnya adalah tes tertulis. Aspek psikomotorik, apalagi afektif, sangat langka dijamah oleh guru. Akibatnya dapat kita saksikan, yakni bahwa para lulusan hanya menguasai teori tetapi tidak terampil melakukan pekerjaan keterampilan, juga tidak mampu mengaplikasikan pengetahuan yang sudah mereka kuasai. Lemahnya pembelajaran dan evaluasi terhadap aspek afektif inim jika kita mau introspeksi, telah berakibat merosotnya akhlak para lulusan, yan selanjutnya berdampak luas pada merosotnya akhlak bangsa.

 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Evaluasi menjadi hal yang penting dalam proses belajar mengajar, karena tanpa evaluasi akan susah sekali mengukur tingkat keberhasilannya.

Evaluasi pendidikan merupakan proses yang sistematis dalam Mengukur tingkat kemajuan yang dicapai siswa, baik ditinjau dari norma tujuan maupun dari norma kelompok serta menentukan apakah siswa mengalami kemajuan yang memuaskan kearah pencapaian tujuan pengajaran yang diharapkan.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka saran yang dapat diberikan penulis adalah:

  1. Gunakan evaluasi sefektif mungkin.
  2. Carilah evaluasi yang menarik bagi anak didik supaya anak didik merasa nyaman dan tidak terbebani.
  3. Jadikan evaluasi sebagai alat kontrol untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: Bumi Aksara.

budi.wiharto.googlepages.com/PengertianEvaluasiPendidikan.doc

http://dokumens.multiply.com/journal/item/34

http://lussysf.multiply.com/journal/item/22

 

Latar Belakang Lahirnya Aliran Konstruktivisme

•1 Februari 2011 • 2 Komentar

Aliran Konstruktivisme lahir dari sebuah kritik secara terbuka terhadap pendekatan Neorealisme dan Neoliberalisme. Manusia merupakan mahluk individual yang dikonstruksikan melalui sebuah realitas sosial. Konstruksi atas manusia ini akan melahirkan paham yang intersubyektivitas. Hanya dalam proses interaksi sosial, manusia akan saling memahaminya. Dalam melihat hubungan antar sesama individu, nilai-nilai relasi tersebut bukanlah diberikan atau disodorkan oleh salah satu pihak, melainkan kesepakatan untuk berinteraksi itu perlu diciptakan di atas kesepakatan antar kedua belah pihak. Dalam proses ini, faktor identitas individu sangat penting dalam menjelaskan kepentingannya. Interaksi sosial antar individu akan menciptakan lingkungan atau realitas sosial yang diinginkan. Dengan kata lain, sesungguhnya realitas sosial merupakan hasil konstruksi atau bentukan dari proses interaksi tersebut. Hakekat manusia menurut konsepsi konstruktivisme lebih bersifat bebas dan terhormat karena dapat menolak atau menerima sistem internasional, serta membentuk kembali model relasi yang saling menguntungkan.

Dalam teorinya, konstruktivistik merupakan pengembangan lebih lanjut dari teori gestalt. Perbedaannya: pada gestalt – permasalahan yang dimunculkan berasal dari pancingan eksternal sedangkan pada konstruktivistik – permasalahan muncul dibangun dari pengetahuan yang direkonstruksi sendiiri. Dalam pembelajaran di kelas, teori ini sangat percaya bahwa siswa mampu mencari sendiri masalah, menyusun sendiri pengetahuannya melalui kemampuan berpikir dan tantangan yang dihadapinya, menyelesaikan dan membuat konsep mengenai keseluruhan pengalaman realistik dan teori dalam satu bangunan utuh.

Oleh karena itu aliran konstruktivisme memberikan implikasi yang sangat besar dalam dunia pendidikan, khususnya di sekolah dasar.

 

Konflik dalam Kepemimpinan Pendidikan

•1 Februari 2011 • 3 Komentar

Istilah konflik akan membawa suatu kesan dalam pikiran seseorang bahwa dalam hal tersebut terdapat suatu pemikiran, pertentangan antara beberapa orang atau kelompok orang-orang, tidak adanya kerja sama, perjuangan satu pihak untuk melawan pihak lainnya, atau suatu proses yang berlawanan.

Konflik dalam kesan semacam ini, walaupun kenyataannya ada dan  bisa terjadi dalam administrasi Negara kita, tampaknya membuat banyak orang menghindarinya. Sebagian karena hal tersebut tidak sesuai dengan ciri-ciri adanya keselarasan, keseimbangan, dan keserasian. Sebagian lainnya, banyak oramg tidak mau berkonflik dangan orang lain, karena konflik menimbulkan banyak musuh. Tapi bagaimana kalau suatu ketika konflik itu timbul dalam kantor, organisasi, atau  departemen tempat kita bekerja? Di sinilah relevansinya fungsi seorang pemimpin untuk bisa mengatasi konflik yang tidak disenangi tapi bisa timbul sewaktu-waktu.

Konflik Antarpribadi

Selain konflik yang terjadi dalam diri seseorang, konflik dapat pula terjadi antarpribadi. Konflik antarpribadi terjadi jika dua orang atau lebih berinteraksi satu sama lain dalam melaksanakan pekerjaan. Joe Kelly mencatat, bahwa situasi konflik yang tidak bisa dihindari adalah keadaan-keadaan seperti ini: paling sedikit dua orang yang mempunyai pandangan-pandangan yang tidak bisa disatukan, orang-orang yang tidak bisa bertoleransi dari sesuatu yang bermakna ganda, dan seorang yang dengan cepatnya suka menarik suatu kesimpulan.

 

Penyebab Konflik Antarpribadi

1. Perbedaan individu yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.

Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.

2. Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.

Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.

3. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.

Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda.

4. Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.

Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.

 

Strategi Pemecahan Konflik Antarpribadi

Lose-lose (kalah-kalah) Biasanya terjadi jika orang yang bertemu sama-sama punya paradigma Menang-Kalah. Karena keduanya tidak bisa bernegosiasi secara sehat, maka mereka berprinsip jika tidak ada yang menang , lebih baik semuanya kalah. Mereka berpusat pada musuh, yang ada hanya perasaan dendam tanpa menyadari jika orang lain kalah dan dirinya kalah sama saja dengan bunuh diri.

Lose-Win (kalah-menang) Paradigma ini mengatakan jika “saya menang, anda kalah“. Dalam gaya ini seseorang cenderung menggunakan kekuasaan, jabatan, mandat, barang milik, atau kepribadian untuk mendapatkan apa yang diinginkan dengan mengorbankan orang lain. Dengan paradigma ini seseorang akan merasa berarti jika ia bisa menang dan orang lain kalah. Ia akan merasa terancam dan iri jika orang lain menang sebab ia berpikir jika orang lain menang pasti dirinya kalah. Jika menang pun sebenarnya ia diliputi rasa bersalah karena ia menganggap kemenangannya pasti mengorbankan orang lain. Pihak yang kalah pun akan menyimpan rasa kecewa, sakit hati, dan merasa diabaikan.

Sikap Menang-Kalah dapat muncul dalam bentuk :

Menggunakan orang lain , baik secara emosional atau pun fisik, untuk kepentingan diri. Mencoba untuk berada di atas orang lain. Menjelek-jelekkan orang lain supaya diri sendiri nampak baik. Selalu mencoba memaksakan kehendak tanpa memperhatikan perasaan orang lain. Iri dan dengki ketika orang lain berhasil.

Win-win (menang-menang) Menang-Menang adalah kerangka pikiran dan hati yang terus menerus mencari keuntungan bersama dalam semua interaksi. Menang-Menang berarti mengusahakan semua pihak merasa senang dan puas dengan pemecahan masalah atau keputusan yang diambil. Paradigma ini memandang kehidupan sebagai arena kerja sama bukan persaingan. Paradigma ini akan menimbulkan kepuasan pada kedua belah pihak dan akan meningkatkan kerja sama kreatif.

Dari ketiga strategi di atas, strategi yang akan kami gunakan adalah Lose-lose (kalah-kalah) seperti yang telah dijelaskan.

Gaya Kepemimpinan

Gaya kepemimpinan yang akan kami tampilkan adalah gaya konsultasi, yaitu menunjukkan perilaku tinggi tugas dan tinggi hubungan.

 

 

Skenario Pementasan

Konflik Antarpribadi (Strategi Lose-lose (kalah-kalah) dengan Gaya Konsultasi (Tinggi tugas- Tinggi hubungan)

Siang itu, dua orang kakak-beradik tiba di rumahnya, setelah menuntut ilmu seharian dari sekolah. Tiba-tiba mereka menemukan selembar uang Rp 50.000 terletak di atas meja di ruang tamu.

Kakak-Adik     : (Bersama-sama) Haaah ada duit lima puluh ribu.

Kakak              : Yeyeye nemu duit..

Adik                : Kakak, aku juga nemu duit itu lebih dulu.

Kakak              : Eit,, gak bisa dong. Sekarang khan duitnya udah ada di tangan kakak.

Adik                : Gak bisa gitu dong Kak. Kakak khan lebih tua dari aku, jadi mestinya

Kakak yang ngalah. Sini…duitnya… (sambil menyodorkan tangannya).

Kakak              : Umm sori ya Dik. Kakak gak bisa bagi. Jadi….

Adik                : Iiii kakak curang… Sini duitnya… Sini…!!

Kakak              : Ihhh gak boleh. Ini khan punya kakak.

Terjadilah aksi saling berebut di antara dua orang kakak-beradik itu.

Adik                : Kalo kakak gak mau ngasih ke aku, aku akan teriak manggil mami.

Kakak              : Silahkan…teriak aja… Weeee..!! (sambil menjulurkan lidahnya).

Adik                : Mamiiii…. Mamiiii…!!!!!!!

Ibu mereka yang sedang sibuk di dapur pun datang menghampiri mereka.

Mami               : Heyy, heyy..! Ada apa ini?? Kenapa adik sampai teriak-teriak seperti

itu.

Adik                : Gini Mi. Tadi khan kita nemu duit lima puluh ribu di atas meja, trus adik gak dibagi duit ama kakak. Padahal adik juga yang nemu duit itu

duluan.

Kakak              : Yeee siapa bilang. Aku khan yang nemuin duit itu sendirian.

Adik                : Bo’ong tuh Mi. Kakak bo’ong.

Mami               : Sudah cukup. Sekarang mana duitnya. Kasih ke Mami.

Kakak              : Nih..! (Sambil menyodorkan uang Rp 50.000 pada Mami).

Mami               : Kakak,,, Adik…! Sekarang dengarkan Mami baik-baik yaa. Tadi kalian menemukan duit ini di atas meja khan?

(Kakak dan adik mengangguk)

Ingat..! Setiap kali kita menemukan sebuah benda berharga dimanapun kita berada, kita tidak boleh mengambilnya. Karena itu bukan milik kita. Seperti uang ini. Uang ini adalah milik orang lain. Dan orang itu pasti ada di rumah ini. Jadi, kakak sama adik gak boleh sembarangan mengaku bahwa ini sudah jadi milik kalian. Mengerti??

Kakak-Adik     : (Bersama-sama) Iya Mi.

Mami               : Nah, sekarang tugas kalian adalah mengembalikan uang ini ke Bi Inah. Karena tadi Mami dengar dia sedang mencari-cari uangnya yang hilang. Mungki saja uang ini adalah milik Bi Inah.

Adik                : Yaah Mami. Tapi khan…

Mami               : Gak ada tapi-tapian. Kembalikan segera. Kalo tidak, kita gak akan jadi jalan-jalan hari ini.

Kakak-Adik     : Baiklah Mi.

 

Cara Mempengaruhi Orang Lain dengan Menggunakan Metode Persuasif

•1 Februari 2011 • 12 Komentar

Metode ini paling banyak digunakan untuk membujuk (to persuade) orang sehingga secara tidak sadar mengikuti keinginan komunikator yang menyampaikan bujukan. Dengan metode persuasi, seseorang atau sekelompok orang tidak merasa bahwa perubahan dalam dirinya adalah akibat pengaruh dari luar. Dia yakin bahwa dorongan merubah sikap, pendapat atau perilakunya memang sudah lama ada dalam dirinya. Metode ini yang akan dibahas lebih lanjut karena dari pengalaman para ahli pemasaran dan perubah perilaku, persuasi adalah metode yang terbukti paling ampuh dalam mendorong perubahan dan mempertahankan perubahan itu dalam jangka yang sangat lama.

A. Falsafah Komunikasi Persuasif

Manusia dan komunikasi merupakan satu kesatuan. Komunikasi melekat pada diri manusia, sehingga we can not live without communicate. Keberadaan komunikasi, karena begitu melekatnya pada diri manusia sering tidak disadari. Manusia cenderung beranggapan bahwa dirinya mempunyai kemampuan dalam berkomunikasi. Akibatnya, masalah-masalah yang muncul yang berkaitan dengan komunikasi, seringkali diselesaikan sendiri.

Dalam mempelajari komunikasi persuasif, memahami aspek filosofis komunikasi persuasif, sangat ditekankan. Hal ini mengingat bahwa komunikasi persuasif, sebagaimana halnya ilmu-ilmu yang lain, memiliki tiga aspek filosofis keilmuan, yaitu aspek ontologi, aspek epistemologi, dan aspek aksiologi.

Dengan memahami ketiga aspek filosofi ilmu tersebut, kita dapat membedakan berbagai ilmu pengetahuan yang terdapat di dalam khasanah kehidupan manusia. Hal yang terpenting adalah kita akan mengenali ciri-ciri dari Ilmu Komunikasi Persuasif, serta dapat memanfaatkannya secara maksimal untuk kesejahteraan umat manusia.

Aspek ontologi, menyangkut pertanyaan apa yang dikaji oleh suatu ilmu, aspek epistemologi berkaitan dengan pertanyaan cara-cara memperoleh ilmu tersebut, dan aspek aksiologi berkenaan dengan pertanyaan penggunaan dari ilmu tersebut.

Dalam melakukan komunikasi persuasif, kita harus memahami kriteria tanggung jawab persuasi, sebagaimana yang dikemukakan Larson, yaitu adanya kesempatan yang sama untuk saling mempengaruhi, memberi tahu audiens tentang tujuan persuasi, dan mempertimbangkan kehadiran audiens“.

B. Konsep-konsep Dasar Komunikasi Persuasif

Komunikasi ada dalam segala aktivitas hidup kita. Bentuknya bisa berupa tulisan, lisan, gambar, isyarat, kata-kata yang dicetak, simbol visual, audio visual, rabaan, suara, kimiawi, komunikasi dengan diri sendiri, kelompok, organisasi, antarpersona, dialogis, dan lain-lain.

Istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin ”communicare”, yang berarti berpartisipasi, memberitahukan, atau menjadi milik bersama.

Dalam definisi komunikasi yang dikemukakan beberapa ahli, walaupun pengungkapannya beragam, namun terdapat kesamaan telaah atas fenomena komunikasi. Kesamaan tersebut nampak dalam isi yang tercakup di dalamnya, yaitu adanya komunikator, komunikan, pesan, media/saluran, umpan balik, efek, dampak serta adanya tujuan dan terbentuknya pengertian bersama.

Untuk memahami komunikasi, dapat dilihat dari dua perspektif, yaitu perspektif umum dan perspektif paradigmatik. Perspektif secara umum dapat dilihat dari dua segi, yaitu pengertian secara etimologis, dan pengertian secara terminologis.

Istilah persuasi bersumber dari bahasa Latin, persuasio, yang berarti membujuk, mengajak atau merayu.

Persuasi bisa dilakukan secara rasional dan secara emosional. Dengan cara rasional, komponen kognitif pada diri seseorang dapat dipengaruhi. Aspek yang dipengaruhi berupa ide ataupun konsep. Persuasi yang dilakukan secara emosional, biasanya menyentuh aspek afeksi, yaitu hal yang berkaitan dengan kehidupan emosional seseorang. Melalui cara emosional, aspek simpati dan empati seseorang dapat digugah.

Dari beberapa definisi komunikasi yang dikemukakan oleh para ahli, tampak bahwa persuasi merupakan proses komunikasi yang bertujuan untuk mempengaruhi sikap, pendapat dan perilaku seseorang, baik secara verbal maupun nonverbal.

Komponen-komponen dalam persuasi meliputi bentuk dari proses komunikasi yang dapat menimbulkan perubahan, dilakukan secara sadar ataupun tidak sadar, dilakukan secara verbal maupun nonverbal.

Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam komunikasi persuasi meliputi kejelasan tujuan, memikirkan secara cermat orang-orang yang dihadapi, serta memilih strategi yang tepat.

Ruang lingkup kajian ilmu komunikasi persuasif meliputi sumber, pesan, saluran/media, penerima, efek, umpan balik, dan konteks situasional.

Pendekatan yang digunakan dalam komunikasi persuasif adalah pendekatan psikologis. Tiga fungsi utama komunikasi persuasif adalah control function, consumer protection function, dan knowledge function.

 

C. Trik dalam Komunikasi Persuasif

Inilah sembilan trik yang dapat Anda terapkan untuk dapat membujuk dan mempengaruhi orang lain:

1. Bercermin dengan orang lain. Lakukan hal ini dengan menirukan gerakan tangan, membungkukkan badan ke depan atau belakang, atau berbagai gerakan kepala dan lengan lainnya. Kadang-kadang kita melakukannya tanpa sadar, namun bila Anda menyadarinya, pelajari lebih lanjut. Beberapa hal yang perlu diingat adalah Anda harus melakukannya dengan halus, dan buat jeda sekitar 2-4 detik antara gerakan orang tersebut dengan gerakan Anda.

2. Kelangkaan. Inilah yang paling sering dilakukan seorang pembuat iklan. Kesempatan memiliki sesuatu terlihat sangat menarik ketika persediaan begitu terbatas. Hal ini akan berguna untuk orang yang memang sedang membutuhkan, namun yang lebih penting, inilah metode persuasi yang harus diwaspadai. Berhentilah, dan pertimbangkan seberapa sering Anda dipengaruhi berita bahwa sebuah produk sedang langka? Jika memang produk itu langka, tentu akan ada banyak permintaan untuk barang tersebut bukan?

3. Membalas budi. Ketika seseorang berbuat baik pada kita, kita sering merasa dituntut untuk melakukan sesuatu untuknya. Jadi, jika Anda ingin seseorang melakukan sesuatu untuk Anda, Anda bisa memberikan sesuatu yang baik untuknya lebih dulu. Di lingkungan rumah, misalnya, Anda bisa menawarkan untuk meminjamkan peralatan memasak, tangga, atau apa pun, kepada tetangga yang terlihat sedang membutuhkan. Tidak masalah kapan, atau dimana Anda melakukannya, kuncinya adalah menghargai hubungan yang ada.

4. Waktu yang tepat. Orang cenderung setuju atau menurut pada Anda ketika mereka merasakan kelelahan secara mental. Sebelum Anda meminta sesuatu pada seseorang yang mungkin tidak akan langsung disetujuinya, cobalah untuk menunggu sampai ada kesempatan dimana mereka baru saja melakukan sesuatu karena terdesak. Temui dia saat hendak pulang dari kantor, dan katakan apa yang Anda mau. Seringkali jawabannya adalah, “Besok deh, aku kerjakan.”

5. Keserasian. Teknik ini kerap digunakan para petugas penjualan. Seorang salespeople akan menjabat tangan Anda saat sedang bernegosiasi. Dalam benak kebanyakan orang, berjabat tangan artinya bersepakat, sehingga dengan melakukannya sebelum kesepakatan tercapai, petugas sales seolah sudah mendapatkan transaksi yang ia inginkan. Cara yang tepat untuk melakukannya pada kegiatan sehari-hari adalah membuat seseorang bertindak sebelum mereka memutuskan. Misalnya, Anda mengajak seorang teman jalan-jalan, dan Anda ingin menonton film (padahal sang teman sedang tidak ingin). Anda bisa langsung mengajaknya ke bioskop sementara teman Anda sedang membuat keputusan akan menonton atau tidak.

6. Obrolan yang cair. Saat sedang berbicara, seringkali kita menggunakan frasa seperti “Mm…” atau “Maksud saya…” dan kata-kata lain yang menimbulkan jeda di tengah pembicaraan. Hal seperti ini sebenarnya menunjukkan rasa kurang percaya diri kita, yang dengan sendirinya membuat kita kurang persuasif. Jika Anda yakin dengan apa yang Anda katakan, orang lain pun akan mudah terbujuk dengan apa pun yang Anda katakan.

7. Menggiring. Kita semua terlahir menjadi pengikut. Kita sering memperhatikan apa yang dilakukan orang lain sebelum kita bertindak, karena kita membutuhkan penerimaan dari orang lain. Secara sederhana, cara efektif untuk menggunakan kebiasaan ini adalah dengan menjadi pemimpin, membuat orang lain mengikuti Anda. Misalnya, Anda sedang menghadiri seminar, dan memilih duduk di tengah-tengah. Begitu seminar dimulai, sang MC meminta hadirin untuk mengisi bangku-bangku kosong di depan. Nah, cobalah untuk menjadi orang pertama yang menggiring orang lain untuk menempati bangku tersebut.

8. Benefit. Tunjukkan pada orang lain apa keuntungan bagi mereka jika melakukan tindakan yang Anda sarankan ini. Namun perhatikan apa yang Anda sampaikan. Anda harus mengatakannya dengan optimis, mendorong, dan menyenangkan mereka. Sikap pesimis dan mengkritik tidak akan membantu. Coba ingat bagaimana Obama memenangkan pemilu akhir tahun lalu. Kata kuncinya adalah “Yes, we can!”. Mengatakan hal-hal buruk tentang orang lain, seperti yang dilakukan John McCain, tidak akan membuat orang bersimpati.

9. Teman-teman dan penguasa. Kita cenderung akan mengikuti atau terbujuk oleh seseorang yang berada di posisi yang lebih tinggi. Ini menjadi contoh yang baik untuk waspada akan “serangan” persuasif yang sedang dilakukan terhadap Anda. Di pihak lain, menjadi cara yang baik pula bagi Anda untuk melakukannya pada orang lain karena Anda akan terkejut betapa mudah membuat orang menyukai Anda dan memperoleh kekuasaan di antara kelompok Anda

D. Contoh Penggunaan Persuasif Sebagai Sebuah Strategi Komunikasi untuk Meningkatkan Minat Baca

Persuasi sebagai sebuah metode yang dipilih sebagai strategi komunikasi karena tujuan dari komunikasi yang dilakukan oleh pustakawan adalah lahirnya minat baca dan minat kunjung perpustakaan. Minat (interest) dalam pengertian umum adalah kecenderungan perilaku yang berasal dari dalam diri individi yang dapat menggambarkan sikap dan pendapat seseorang terhadap sebuah objek sebagai sebuah awal sebelum akhirnya menjadi sebuah tindakan. Dengan pengertian lain bahwa minat selalu muncul dari dalam diri seseorang yang bangkit atau dibangkitkan karena ketertarikan pada sesuatu di luar dirinya.

Untuk dapat menjalankan metode persuasi diperlukan beberapa komponen komunikasi yang harus terlibat secara utuh dan berkaitan satu sama lain dengan erat. Berikut akan diuraikan masing komponennya:

1. Komunikator

Komunikator adalah orang yang menyampaikan pesan komunikasi sehingga dapat sampai dan dimengarti oleh penerimanya. Untuk dapat menggunakan metode persuasi secara efisien, seorang pustakawan yang bertindak sebagai komunikator haruslah orang yang memiliki kredibilitas tinggi (diukur dari kecakapan berkomunikasi lisan dan tulisan, penampilan yang menyenangkan, sikap yang meyakinkan, percaya diri yang tinggi) sehingga menumbuhkan kepercayaan bagi mereka yang menerima pesan. Apabila di perpustakaan belum terdapat orang dengan kriteria itu, bisa juga meminta bantuan (menyewa) orang yang sudah ahli sebagai konsultan atau pelaku langsung.

Disamping kredibilitas, komunikator juga dituntut untuk menilai positif (positiveness) dan mendukung (supportiveness) tujuan komunikasi. Komunikator juga harus terbuka dan jujur. Penerima pesan tidak boleh melihat ada kesan ketidak jujuran pada diri komunikator. Untuk dapat mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan dan disukai oleh sasaran komunikasi, seorang komunikator harus memiliki empati atau kepekaan pada apa yang dirasakan oleh sasaran sehingga dia merasa diperhatikan. Orang sangat suka diperhatikan, dan itulah yang seharusnya diberikan oleh seorang komunikator.

2. Pesan Komunikasi

Setelah komunikator terpilih, komponen kedua yang juga harus diperlakukan dengan sangat hati-hati adalah pesan komunikasi. Berbeda dengan pesan informatif yang sangat kuat dalam memberikan instruksi atau saran tindakan, atau dengan pesan koersi yang terasa dan jelas sekali kesan ancaman yang disampaikan, pesan persuasi harus sangat halus dan hampir tidak kentara “paksaannya.” Pesan tidak boleh terasa diarahkan pada sasaran, tetapi justru berkesan bahwa pesan adalah untuk orang lain. Tidak ada instruksi di dalamnya melainkan contoh hasil tindakan orang lain.

Melalui kemasan pesan seperti ini maka yang akan muncul pada individu atau kelompok sasaran adalah keinginan meniru orang lain yang dicontohkan, bukan karena merasa disuruh atau dipaksa berbuat. Perhatikan contoh pesan berikut (konsep ini juga digunakan oleh banyak iklan):

“Bacalah buku dan kunjungi perpustakaan, maka anda akan menjadi orang yang cerdas dan mendunia”

Perhatikan pesan kedua:

“Tantowi Yahya tidak pernah lupa membaca setiap hari. Seminggu dua kali ia
kunjungi perpustakaan. Itu yang membuatnya nampak cerdas dalam
mengantarkan acara Who wants to be a millionaire.”

Pada pesan pertama kesan ‘perintah’ sangat terasa (BACALAH) walaupun niatnya adalah menghimbau, bukan memaksa. Sedangkan pada pesan kedua, pembaca tidak pernah diminta berbuat apapun, hanya ditunjukkan sebuah contoh.Untuk dapat menyusun pesan persuasi yang baik dan kuat, seorang pustakawan harus rajin membaca dan mengkaji pesan-pesan dalam iklan, kemudian memilih yang dinilai paling efisien untuk kemudian menjadikannya sebagai dasar gagasan (bukan menjiplak!) dalam membuat pesan persuasi tentang apa yang akan terjadi pada seseorang jika membaca dan berkunjung ke perpustakaan.

3. Media Komunikasi

Dalam metode persuasi, media merupakan komponen yang cukup penting karena jika terpilih dengan tepat akan mampu menyampaikan pesan persuasi dan menjangkau sasaran dengan tepat. Maka seorang pustakawan harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang karakter umum setiap jenis dn bentuk media komunikasi (bukan kajian ilmiahnya).

Bentuk media komunikasi secara umum terdiri atas media personal (untuk sasaran perorangan), media kelompok (menjangkau sasaran kelompok pada sebuah tempat tertentu), dan media massa (menjangkau sasaran yang besar dan berbeda tempat). Sedangkan jenis media adalah cetak dan elektronik. Jadi jika digabungkan terdapat kelompok media personal elektronik (telefon, e-mail), media personal cetak (surat, kartu ucapan), media kelompok elektronik (millist, facebook, bulletin board), media kelompok cetak (poster, terbitan internal), dan media massa elektronik (televisi, radio), media massa cetak (koran, majalah).

Pemilihan media dilakukan setelah pustakawan mengetahui media yang paling sering diakses oleh sasaran (dengan alasan mudah diperoleh, dimiliki dan digunakan oleh sasaran). Dengan pengetahuan ini maka tingkat jaminan bahwa pesan akan ‘terbaca’ (accessed/ reached) oleh sasaran menjadi cukup tinggi. Pustakawan tidak boleh menggunakan media karena dia suka dan hanya bisa menggunakan media tertentu saja.

Setelah media ditentukan, maka langkah selanjutnya adalah pengemasan pesan yang disesuaikan dengan sifat media terpilih. Misalnya media massa elektronik memiliki sifat ‘selintas dan tak terulang’, maka pesan yang disampaikan harus sangat pendek dan mudah diingat atau sangat berkesan. Adegan seorang Agnes Monica sedang membaca buku di meja baca perpustakaan UPH lebih mengesankan dan mudah diingat dibandingkan sekumpulan teks tentang guna dan manfaat membaca di perpustakaan. Tetapi dalam sebuah Blog pustakawan, orang lebih ‘berminat’ membaca pengalaman sang pustakawan bertemu presiden RI setelah menang lomba menulis cerita yang bahannya dia ambil dari Perpustakaan Umum Kota Bangka (atau peristiwanya dikarang layaknya sebuah iklan!).

Di samping isi, pesan juga harus dikemas dengan daya tarik tinggi. Kembali lagi, dasar kemasan adalah karakter sasaran komunikasi. Sasaran remaja harus mendapat pesan persuasif dalam kemasan yang bergaya muda, baik pilihan kata, jenis huruf, warna dan ilustrasi yang ditempelkannya. Begitu pula bagi sasaran anak-anak atau orang dewasa.

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.